Aura duka segera menyerobot masuk dalam sukacita Paskah. Banyak yang memilih bertahan di rumah ketimbang berkumpul bersama rayakan Pekan Suci. Yang rayakan Pekan Suci, tentu secara manusiawi, dilanda hati gusar oleh hujan dan tiupan angin menggemuruh. Pekan Suci yang harus dibayar mahal oleh teror alam. Ucapan Salam Paskah penuh ceriah mesti bertarung melawan info-info kisah pilu: atap rumah dan bangunan perkantoran terbongkar, banjir masuk melanda, jalan putus, jembatan roboh, bendungan jebol, bandara jadi sungai, kota dan kampung terendam, serta pohon-pohon tumbang.
Kini, kita lantas berhadapan dengan pesan Paskah ‘alam pung cara.’ Cahaya lilin Paskah, Terang Kristus, mesti jadi simbol kokoh untuk bertarung jadi harapan bagi segala kepekatan malam. Untuk jadi kisah kemenangan di keluh serta sesak di dada. Untuk mengenang, mencari untuk mendapatkan kembali dalam kasih saudara-saudari yang masih tertimbun longsor di Desa Nele Lamadike, Ile Boleng, Flores Timur. Cahaya lilin Paskah mesti jadi sorot penuh kekuatan bagi rasa penuh kehilangan dari segala yang berikan rasa nyaman, sukacita, keakraban dan penuh persaudaraan.
Solidaritas: Bahasa dan Sikap Kita Bersama
Siapapun tak hendaki kedatangan sebuah bencana! Kita tidak impikan bencana sebagai efek jera agar manusia semakin beriman pada Tuhan! Bencana alam, yang tetaplah orisinal, natural, dan tak dapat dihadang datangnya. Bencana alam adalah benar dan nyata di dalam ‘dirinya’. Dia tak bisa dan tak boleh dikaroseri dengan bahasa taktis dan politis, hanya sebagai medium untuk ungkapkan adanya kepentingan politik sebagaimana kini bersileweran sana-sini. Kita hanya butuh bahasa dan tindak solider.





