Agaknya langit Nusantara sedikit agak riuh belakangan ini. Itu gara-gara terucaplah kata nebeng. Dan adalah Najwa Shihab yang dituduh telah awali suasana gaduh itu. Si Nana bikin ribut dengan kata nebeng itu yang ditempelkannya pada Presiden RI ke 7, Joko Widodo. Kembalinya Jokowi ke Solo setelah purna tugas 10 tahun sebagai Presiden dapat celetuk dari Najwa, “Gak jadi komersil, sekarang nebeng TNI AU.”
Gara-gara itulah Nana dirujak cabe teramat pedas oleh netizen. Maka di balik “Nana – Nebeng – Jokowi” terbentanglah jalur berduri. “Sombong, angkuh, anggap diri cerdas dan paling pintar, provokatif, bikin ulah, sakit hati, dendam, imigran, pulang saja ke Yaman sana…” dan seterusnya segera mengarus deras.
Satu ulasan halus namun terkesan tajam coba mengurai Najwa. Katanya, “Si Nana sudah ada di comfort zone di bidangnya.” Serial ‘Mata Najwa’ yang diampuhnya terasa sudah ada di takhta tertinggi dalam pemberitaan atau investigasi yang lugas, cerdas, kritis, dan pemberani. Nana sudah merasa amat nyaman di zona-nya itu. Terkesan banyak yang kegugupan untuk menghindar dari kejarannya. Dan harus ‘cerdas dan lincah putar otak’ untuk luput dari tatapan penuh urai ‘Sang Mata.’
Maka, bisa dipahami, kata sang analis, sekiranya Nana melihat dirinya dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai ‘standar, norma, dasar, patokan, ukuran baku’ bagi siapa pun. Superioritas intelektual dan rasa diri tahu banyak hal (karena jalur, jaringan investigasi demi kepastian dan kebenaran) bisa menjadikan Nana sebagai ‘ratu kebenaran.’ Jika ‘sang Ratu’ terperdaya dan terbuai dalam ‘regim kebenaran’ maka ia bakal bertiktah dalam kata dan kalimat dari diri dan mau-maunya sendiri.’ Tetapi di situlah, si Nana sudah dinilai dan terpeleset tak cerdas di rana psiko-sosial.






