Sulit dipercaya bahwa si Nana tak paham bahwa Jokowi itu tidaklah bersifat tunggal dan personal semata. Tetapi bahwa di balik Jokowi ada sekian banyak manusia, kelompok, aliansi atau apa saja yang terhubung dengannya. Maka, kata ‘nebeng’ yang tersemat pada Jokowi tidak lagi bersifat ‘pure’ atau netral-biasa dalam arti kata itu sendiri.
Terlekat pada Jokowi (dan kaum kerabatnya?) nebeng sudah punya nuansa degradatif atau bahkan ternilai peyoratif. Jokowi sudah tak punya apa-apa lagi, merana, dan bahkan sudah tinggalkan derita bagi bangsa dan negara. Kasihan, kini Jokowi yang merana itu mesti berupaya untuk nebeng lagi di jalur negara dan pemberintah cq TNI AU?!?
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nebeng itu dipahami sebagai ikut serta semisal makan, naik kendaraan dan sebagainya, dengan tidak membayar. Wah, betapa merananya Pak Jokowi yang dianggap tak punya apa-apa lagi. Netizen, terutama yang pro Jokowi, menganggap si Nana tak etislah, tak elok dan tak pantaslah mendesign Pak Jokowi dalam kata nebeng itu.
Nilai rasa kata yang terbangkitkan untuk seorang mantan Presiden dari seorang Najwa sejatinya tak seperti itulah. Tentu sehebat apapun Najwah (bakal) berkilah dengan argumen rasional, toh netizen pasti akan tetap bersandar pada ‘rasa kata’ dengan segala nuansa emosi gaduh dan terjepit yang sulit terpadamkan. Prihatin, marah dan amat kecewa terhadap seorang Najwa.
Bagaimana pun, marilah sedikit melebar. Mungkin saja tak cocok namun bisa menyentil adanya kecenderungan kita untuk bertindak nebeng dalam keseharian. Tak (belum) punya cukup uang, kita harus ‘pintar cari cela untuk nebeng.’ Nebeng tinggal di rumah sanak keluarga, pintar cari info untuk banyak hal yang gratisan, nebeng kiloan bagasi pesawat dari sesama penumpang lain agar luput dari denda over weight. Ini belum lagi sekiranya demi gratisan atau tak bayar dari pundi-pundi pribadi, nebeng bisa merapat pada tindak mumpung-isme, seperti nebeng pada kedudukan, jabatan, pangkat atau kuasa dan seterusnya.







