Oposisi itu diperlukan sebagai pisau untuk mengasah dan menajamkan ranah pemikiran. Demokrasi menganut anggapan dasar bahwa tukar pikiran, diskusi dan saling berbicara di antara orang-orang yang terbebaskan dari kepentingan purba-infantil dan berpengetahuan cukup serta tunduk kepada etika musyawarah adalah jalan terbaik untuk mencapai keputusan bersama dalam bidang apa pun. Diskursus dalam musyawarah yang terbuka menegaskan komitmen bersama, entah dari pemerintah maupun oposisi untuk berpartisipasi dalam kehidupan rakyat.
Orang tidak bisa mengembangkan demokrasi, kalau tidak terbiasa berpikir alternatif. Untuk itu,salah satu yang diperlukan adalah lembaga oposisi yang bisa mewujud dalam partai politik, LSM, aktivis dan media. Secara alamiah akan tumbuh tren di ruang publik bahwa selalu ada kelompok yang tidak setuju kepada kekuasaan yang mapan, apalagi kekuasaan antikritik yang menutup celah bahkan membungkam suara alternatif. Demokrasi menghendaki sebanyak mungkin suara dan diskursus alternatif. Tapi suara alternatif itu tidak mungkin akan tumbuh tanpa kebebasan secukupnya dan tanpa keberanian masyarakat untuk menciptakan pusat-pusat pemikiran yang lain di luar kekuasaan mapan.
Simpulnya, dalam demokrasi diperlukan adanya suasana yang memungkinkan tumbuhnya gagasan kontra elite. Hanya melalui diskursus yang kontra dalam suasana demokrasi yang terbuka dan matang, lahir pikiran baru yang dapat menjadi solusi alternatif dalam ranah kebijakan publik. Tidak ada kebenaran mutlak dalam demokrasi. Maka kita berharap agar elite politik dan birokrasi lebih dewasa dan matang dalam merespons setiap pemikiran kontra dengan kebijakan pembangunan. Diskursus ini mengemuka di tengah otonomi daerah yang menghadirkan segelintir bupati berwajah tiran. Sementara suara kritis dari lembaga DPR(D) yang diharapkan publik tidak terdengar. Justru fakta miris mengemuka: pihak yang mesti jadi oposisi malah haus kuasa sehingga melarutkan diri dalam pesta politik bagi-bagi jabatan. Pesta pora politik inilah yang menjadi basis permusuhan terhadap kelompok oposisi yang setia bersuara kritis. Fakta ini diperparah dengan publik yang tidak cerdas soal demokrasi yang gampang dikendalikan oleh kekuasan tiran. Ketika suara kritis dimusuhi, itu pertanda ada yang tidak benar dalam kekuasan. Jika kekuasaan berjalan dengan baik dan benar, suara kritis adalah asupan gizi yang segar bagi pertumbuhan kebaikan dan kebenaran politik dalam rahim demokrasi. *







