Oleh kemajuan perkembangan zaman, khususnya di bidang teknologi, hidup manusia semakin mudah. Hal ini tidak dilihat sebagai satu kenyataan yang harus disyukuri tetapi malah semakin menjauhkan manusia dari Allah. Kemajuan ini, seharusnya semakin mempergampang manusia dalam menemukan jati dirinya yang asli yakni Anak Kekasih Allah. Namun kenyataannya, manusia kehilangan dirinya. Manusia tidak hidup lagi sebagai Anak Allah. Kemajuan dunia membuatnya mudah menemukan apa yang dibutuhkannya, lalu lupa akan Tuhan, pemilik segala sesuatu.
Masalahnya ialah racun kesombongan sudah menguasai hati, budi dan pikirannya. Kalau orang tidak sembahyang pada hari Minggu, itu bukan hanya soal malas, tetapi karena ada rasa tidak peduli lagi dengan Allah. Inilah dosa warisan dari Adam sampai kita.
Untuk melawan sikap manusia yang semacam ini, Yesus memilih jalan kerendahan hati sampai tingkat yang paling rendah dan tidak bisa lebih rendah dari itu lagi, yakni menjadi manusia yang hamba sampai mati di salib. Yesus turun pada tingkat paling rendah agar bisa mengangkat manusia dari bawah. Yesus yang Allah rela menghampakan diri-Nya agar bisa membebaskan manusia dari kesombongan yang menutup statusnya sebagai Anak Allah. Status diri kita sebagai Anak Allah merupakan jati diri kita yang asli, berkat Sakramen Pembaptisan.
Pada hari Raya Pembaptisan Tuhan kita Yesus Kristus ini, sambil mengenang pelantikan Hamba Allah yang setia, marilah kita kembali ke status kita yang asli itu, yaitu menjadi Anak Kekasih Allah. Syaratnya: hiduplah sebagai Anak Allah dalam tingkah laku hidup sehari-hari, hormat dan takut kepada Allah serta baik dengan semua orang.







