Oleh Pater John Naben, SVD
Ada tiga orang sahabat yang hidup bertetangga. Daud seorang tukang besi; Ali seorang petani tulen dan Karim seorang tukang kayu yang ulet. Selain menjadi seorang tukang besi, Daud dikenal sebagai seorang pemabuk di kampung itu dan menganggap diri paling hebat di antara semua tukang besi yang ada.
Ali dikenal sebagai seorang yang takut akan Tuhan. Dia bekerja mulai dari matahari terbit sampai pada matahari terbenam. Dia seorang yang rajin berdoa, hadir dalam kegiatan rohani di lingkungan, dan rajin memimpin doa rosario pada bulan Mei dan Oktober. Namun, kekurangan yang dimilikinya adalah cepat marah dan sering bertengkar dengan orang di sekitarnya. Sedangkan Karim adalah seorang tukang kayu, yang baik hati, yang disenangi oleh semua orang, bergaul dengan siapa saja dan juga ramah-tamah.
Pada suatu hari, ketiganya terkena penyakit kusta pada waktu yang bersamaan. Sesuai dengan kebiasaan, ketiga orang itu – Daud, Ali dan Karim – harus menyingkir dan tinggal di pondok di luar perkampungan warga. Mereka diisolasi dari keramaian dan hidup menjauh dari orang-orang di desa. Mereka bahkan diasingkan oleh keluarga, saudara/i sekandung.
Pada suatu malam ketiganya bermimpi mendengar suara Tuhan yang mengatakan ‘berdoalah untuk kesembuhanmu’. Pada pagi harinya, ketiganya bercerita tentang mimpi yang sama. Dan mereka berkesimpulan bahwa mimpi itu sesungguhnya adalah pesan dari Tuhan sendiri. Ketiganya lalu berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon penyembuhan dari Tuhan.







