Hak untuk Memiliki Hak (Merenungi Hari Kartini)

2aecc48a63996cacbac76268ef39c3031441c05221fab5ed05925b081cb426e8.0

Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge

Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April memiliki makna mendalam. Inti utama peringatan Hari Kartini adalah memperingati dan menghormati perjuangan R.A. Kartini dalam mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan segala lini kehidupan. Perayaan ini mengingatkan masyarakat Indonesia untuk terus konsisten memperjuangkan keadilan dalam kesetaraan gender.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Gagasan-gagasan dan perjuangannya dapat kita baca dalam surat-suratnya. Seorang sahabatnya yang berasal dari Belanda, J.H. Abendanon, mengumpulkan surat-surat itu dan dibukukan. Buku itu diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul ‘Door Duisternis tot Lich’ (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa (Inggris, Prancis, Jerman). Bagi pembaca Eropa pada masa itu, surat-surat Kartini adalah kesaksian langka dan menyentuh tentang kehidupan perempuan pribumi di bawah kolonialisme. Mereka melihat Kartini sebagai “subjek jajahan”, tetapi sebagai pemikir humanis yang cerdas, kritis, dan universal.

Sementara itu, para aktivis hak perempuan di Eropa dan Amerika Serikat pada awal abad ke-20 sering mengutip Kartini sebagai contoh perjuangan perempuan di negara non-Barat. Mereka melihat paralel antara perjuangan Kartini dengan gerakan ‘suffragette’ (hak pilih perempuan) di Barat, meskipun konteks budayanya berbeda.

Tak ketinggalan pula sejumlah tokoh feminis dan penulis internasional yang menulis atau menyebutkan Kartini dalam karya mereka sebagai simbol perlawanan halus dan intelektual. Ada dua point penting dari tulisan dan sebutan itu. Pertama, Kartini sebagai simbol “Feminisme Timur”. Dalam literatur studi gender pasca-kolonial, Kartini sering ditulis sebagai figur kunci yang menunjukkan bahwa feminisme bukanlah impor Barat semata, tetapi memiliki akar lokal yang kuat. Penulis-penulis akademis dari universitas di Belanda, Australia, dan Amerika Serikat sering menganalisis surat-surat Kartini untuk memahami dinamika gender di Asia Tenggara.

Pos terkait