Sambilewa,  Jejak  Keramat Melukis Makna

Menhir Sambilewa
Batu megalit peninggalan leluhur di Sambilewa. Foto/ist

BORONG KABARNTT-CO Sambi Lewa. Sebuah nama tempat. Kampung tua. Lokasi pemukiman manusia perdana orang Rongga. Suku Nggeli, khususnya. Menyusul Suku Motu. Dua suku ini bertetangga. Kerabat dekat.

Sambilewa bukan sekadar nama. Tetapi ada sesuatu yang abadi. Sebab di lokasi itu, ada peninggalan-peninggalan yang mewaris. Peninggalan itu masih berdiri kokoh. Utuh. Meski diantaranya dilumuri lumut kusam. Peninggalan itu juga unik. Menarik. Tak ada tandingannya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ada dua loh batu raksasa. Berdempetan. Bentuknya khas. Di beberapa titik ada kuburan leluhur. Terdapat pula menhir dan megalit. Formula menhirnya aneka macam.

Jauh sebelum Manggarai Timur otonom, peninggalan-peninggalan itu terkulai lemas. Tak terurus. Namanya dielus manja tapi dilupakan. Bagai sepoi angin ditelan bumi. Bejana indah itu pun tak lebih seperti mutiara di tengah semak. Tidak  akrab  di gendang telinga masyarakat publik. Jangankan untuk konteks nasional, untuk masyarakat  Manggarai Raya  sendiri pun masih asing. Maka tidak heran bila potesi wisata itu  seperti  mosaik-mosaik tak bertuan. Luput dari perhatian. Jauh dari ingatan.

Padahal lokasi wisata tersebut memiliki potensi luar biasa. Bukan saja jejak peninggalannya, tetapi pesan moral di dalamnya. Pesannya membekas. Kuat. Menggigit.Bertenaga. Mempresentasekan peradaban masyarakat Rongga  umumnya dan Suku Nggeli dan Suku Motu pada khususnya.

Lama nian potensi ini dilupakan.  Nyaris lenyap dari awasan. Luput dari perhatian dan ingatan. Kecuali turunan Suku Nggeli dan Suku Motu sendiri. Dua suku ini tetap  menaruh hormat. Masih akrab dengan tempat itu.  Saat-saat tertentu berkunjung ke sana. Membersih-kan rumput-rumput liar. Seraya  mempersembahkan sesajian bagi leluhurnya.

Pos terkait