Mulai dari cabang jalan Gereja St. Arnold Waelengga. Kita menyusur jalan aspal. Melewati Kampung Wae Wole dan Lekolembo. Lalu menanjak ke Padang Sengga Sulu. Menyusul sedikit landai kita akan tiba di Jerekota. Lalu masuk dataran Mausui.
Di Mausui kita akan mendapatkan ratusan ternak berkubang bebas di muara sungai itu. Serong arah kiri kita berhadapan dengan deburan ombak. Menatap laut biru. Sejauh mata memandang. Selanjutnya kita menanjak pelan melintasi rebis tipis Wai Jo.
Setibanya di dataran Woi Jo kita akan berjumpa dengan permadani rumput hijau. Hela napas sejenak di pohon keramat Nunu Langgo. Selanjutnya kita berjalan pelan menuju pintu masuk kawasan hutan Sambi Lewa.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari Waelengga, kita sudah tiba di tempat itu. Mata kita akan sungguh dimanjakan. Tak jua berkedip. Kita justru nanar menyaksikan panorama alam yang khas dan unik.
Selain pemandangannya menarik, kesan magis dan mistik terasa kental. Hal itu erat kaitan dengan keberadaan Watu Susu Rongga dan batu megalit. Dua jenis peninggalan ini membahasakan kekuatan. Konon di bawah batu megalit ada jasad yang dikuburkan. Jasad para penghuni perdana.
Watu Susu Rongga membahasakan jejak perjuangan mengamankan diri dan lingkungan kampung. Sebab batu itu, sesuai kisahnya, mau menutup pintu jalan masuk kampung. Khawatir ada serangan musuh. Sebab kala itu, konon katanya. Perang berkecamuk di mana-mana. Yang kalah bakal jadi hamba sahaya. Yang masih gadis akan jadi budak seks. Yang melawan dihabiskan. Jika perlawanan sekampung, maka kampung itu dibumihanguskan. Demikian potongan kisahnya, mengapa dua loh batu itu dibutuhkan.







