Sambilewa,  Jejak  Keramat Melukis Makna

Menhir Sambilewa
Batu megalit peninggalan leluhur di Sambilewa. Foto/ist

Mulai  dari cabang jalan Gereja St. Arnold Waelengga. Kita menyusur jalan aspal. Melewati Kampung Wae Wole dan Lekolembo. Lalu menanjak ke  Padang Sengga Sulu. Menyusul sedikit landai kita akan tiba di  Jerekota. Lalu masuk  dataran  Mausui.

Di Mausui kita akan mendapatkan ratusan ternak  berkubang  bebas di muara sungai itu. Serong arah kiri kita berhadapan dengan deburan ombak. Menatap laut biru. Sejauh mata memandang. Selanjutnya kita menanjak pelan melintasi rebis tipis Wai Jo.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Setibanya di dataran Woi Jo kita akan berjumpa dengan permadani rumput hijau. Hela napas sejenak di pohon keramat Nunu Langgo. Selanjutnya  kita berjalan pelan menuju pintu masuk  kawasan hutan Sambi Lewa.

Sekitar tiga  puluh menit  perjalanan dari Waelengga, kita   sudah tiba di tempat itu. Mata kita akan sungguh dimanjakan. Tak jua berkedip. Kita justru nanar menyaksikan panorama alam yang khas dan unik.

Selain  pemandangannya menarik,  kesan magis dan mistik  terasa kental. Hal itu  erat kaitan dengan keberadaan  Watu Susu Rongga dan batu megalit. Dua jenis peninggalan ini  membahasakan kekuatan. Konon di bawah batu megalit  ada jasad yang  dikuburkan. Jasad para penghuni perdana.

Watu Susu Rongga membahasakan jejak perjuangan mengamankan diri dan lingkungan kampung. Sebab  batu itu, sesuai kisahnya, mau menutup pintu jalan masuk kampung. Khawatir ada serangan musuh. Sebab  kala  itu, konon katanya. Perang berkecamuk di mana-mana. Yang kalah  bakal jadi hamba sahaya. Yang masih gadis akan jadi budak seks. Yang melawan dihabiskan. Jika perlawanan sekampung, maka kampung itu dibumihanguskan. Demikian potongan kisahnya, mengapa dua loh batu itu dibutuhkan.

Pos terkait