Seturut kisah Markus Bana dan Simon Liko. Ketika di medan perang konsentrasi Jawa Tu Nai Patty hanya tertuju pada Nda Ne’e Panga. Beberapa warga Todo membantunya untuk memastikan sosok Nda Ne’e Panga itu.
Saat mendatangi lokasi perang, Nda Ne’e Panga menunggang kuda jantan putih. Lengkap dengan peralatan perang. Pimpin pasukan tempur dari Cibal. Seketika itulah Jawa Tu Nai Patty melepaskan satu tembakan menggunakan butir peluru emas Ana Ndeo itu. Dua..ar, Nda Ne’e Panga pun jatuh tersungkur bersama kuda jantan putih tunggangannya.
Selanjutnya, pasukan Todo secara enteng menyerang habis-habisan pasukan Cibal. Tiada maaf… Membakar semua rumah dan membunuh seluruh warga. Membumihanguskan perkampungan Cibal. Sejak saat itulah Cibal dinyatakan kalah. Kekuasan raja pun tetap bertahta di Todo.
Yang berhasil meloloskan diri hanya seorang gadis perawan. Gadis itu diselamatkan karena memohon kepada pimpinan perang pasukan Todo agar tidak dibunuh. Diceritakan, gadis itu sangat cantik. Gadis sempurna. Sang gadis bersedia dijadikan apa saja. Asalkan dizinkan tetap hidup. Permintaan sang gadis pun dikabulkan. Gadis tersebut dibawa ke Todo.
Sesuai rencana semula. Setibanya di Todo, gadis tersebut akan dipersembahkan bagi pimpinan pasukan perang. Raja Todo. Tetapi Raja Todo keberatan. Tidak tega. Tidak bersedia menjadikan gadis itu sebagai istrinya. Sempat juga ditawarkan kepada Jawa Tu Nai Patty memperistrikan gadis itu. Atau dijadikan pelayan. Tetapi Jawa Tu Nai Patty menolaknya.
Karena itu disepakati. Sebab dibiarkan hidup layaknya sebagai warga biasa khawatir akan jadi sasaran empuk Raja Bima. Maka gadis malang itu pun dibunuh. Lalu dikuliti tubuhnya. Kulit tubuh bagian perut dijadikan gendang. Gendang keramat yang dibabtis dengan nama ‘Loke Nggerang’. Gendang bersejarah warisan pusaka Todo. Saat ini gendang itu masih abadi di rumah adat Todo.







