Maka utusan Raja Todo mendatangi Jawa Tu Nai Paty di Sambi Lewa. Tujuannya memohon bantuan agar turut serta dalam peperangan melawan Cibal. Membantu pihak Todo. Maklumlah sosok Jawa Tu Nai Patty sangat popular di zaman itu. Figur tenar dan disegani.
Maka berangkatlah kakak-beradik ini ke sana. Setibanya di Todo, Jawa Tu Nai Patty mendengar semua kisah pertempuran antara Todo-Cibal yang sudah berlangsung. Pimpinan pasukan Todo mengaku kekalahan mereka disebabkan kekuatan pasukan Cibal di bawah pimpinan, Nda Ne,e Panga.
Karena itu, malam hari sebelum perang Jawa Tu Nai Patty bertemu Raja Todo. Seraya bertanya, apakah Raja Todo memiliki butiran-butiran emas atau tidak!” Sebab seturut penglihatan Jawa Tu Nai Patty, mematikan Nda Ne’e Panga tidak ada pilihan. Sebab kekuatannya dahsyat. Serangan dari sisi mana saja selalu berhasil dijinakkan Nda Ne’e Panga. Karena itu, pilihan mematikan Nda Ne’e Panga harus menggunakan peluru emas. Lalu Raja Todo menyerahkan butiran-butiran emas yang tersimpan dalam sokal ukuran kecil.
Malam itu juga. Mulailah Jawa Tu Nai Patty meracik satu butir peluru emas. Peluru ini diberi nama “Ana Ndeo”. Saat meracik peluru “Ana Ndeo”, Jawa Tu Nai Paty bersumpah terhadap peluru itu. Isinya berupa ‘sura’ atau sumpah. Isinya demikian. “Peo-peo Ana Ndeo, paka mata Nda Ne’e Panga,”(Terjemahannya Ana Ndeo kami bersumpah dan memohon kepadamu agar ketika butir peluru emas ini dilepaskan harus tepat sasaran pada Nda Ne’e Panga,” kisah Markus Bana, salah seorang tokoh turunan Suku Nggeli.







