Sambilewa,  Jejak  Keramat Melukis Makna

Menhir Sambilewa
Batu megalit peninggalan leluhur di Sambilewa. Foto/ist

Sementara untuk Jawa Tu Nai Patty, atas bantuan terlibat dalam peperangan melawan Cibal, Raja Todo merasa berutang  budi. Sementara tawaran untuk jadikan istri, gadis asal Cibal yang selamat itu ditolak. Maka kepada Jawa Tu Nai Patty diminta menyebut satu permintaan khusus. Permintaan  apa saja. Raja Todo siap mengabulkannya.

Sesungguhnya Jawa Tu Nai Patty tidak menghendaki apa-apa. Sebab namanya juga bantuan. Tidak harus mendapat imbalan. Lantaran terdesak oleh permintaan Raja Todo, maka Jawa Tu Nai Patty hanya minta supaya butir emas sisa racikan peluru emas  Ana Ndeo dijadikan oleh-oleh pulang. Permintaan itu dikabulkan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Maka bawalah Jawa Tu Nai Patty butir-butir emas itu. Kemudian butir emas itu diolah sebagai kekayaan dan peninggalan bersejarah. Hasil olahan butir-butir emas itu masih abadi di rumah adat Suku Nggeli di Lekolembo-Mausui. Meski beberapa diantarannya sudah ‘raib’ akibat ulah tangan-angan jahil sesama warga Suku Nggeli sendiri.

Namun, bagi Raja Todo  oleh-oleh butiran emas yang diserahkan untuk Jawa Tu Nai Patty tidak cukup sepadan jika disandingkan dengan bantuannya. Sebab Todo menyadari tanpa bantuan Jawa Tu Nai Patty, pasti  pihak Todo  kalah lagi. Kekuataan Nda Ne’e Panga tidak bisa dijinakkan. Meski dengan segala cara. Nda Ne’e Panga tokoh super man dengan kekuatan super pula. Laut, darat, dan udara beres. Semua ada penangkalnya. Nda Ne’e Panga miliki itu semua.

Lambat-laun, Raja Todo mencari solusi lain. Yakni, perlu adanya ikatan   kuat antara Todo dengan Jawa Tu Nai Patty. Maka disepakati dalam bentuk  hukum adat. Yaitu, Raja Todo dan turunannya menjadi anak rona dan turunan Jawa Tu Nai Paty sebagai  anak wina.

Pos terkait