Sambilewa,  Jejak  Keramat Melukis Makna

Menhir Sambilewa
Batu megalit peninggalan leluhur di Sambilewa. Foto/ist

Sebelum  berangkat ke  Watu Lajar-Todo  delapan orang utusan ini mendapat wejangan dari Jawa Tu Nay Patty. Tujuannya agar mereka  selamat dalam perjalanan. ‘Bersih’ dari godaan. Sebab mereka pergi tanpa membawa apa pun. Meski demikian mereka harus ekstra hati-hati. Bagaimana proses mengambil dua loh batu itu agar bisa tiba di pintu masuk kampung sebelum ayam berkokok tiga kali.

Proses evakuasi berjalan lancar. Dalam waktu sekejap dua loh batu itu sudah mereka angkut. Hal itu diyakini karena leluhur Todo  merestuinya. Dua loh batu ini menjadi tanggung jawab delapan utusan. Mereka terbagai dalam dua kelompok. Kelompok pertama bagian depan batu. Kelompok kedua bagian belakangnya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Mereka pikul batu itu hingga tiba di tengah kampung  Sambi Lewa sebelum larut malam. Maka diputuskan untuk istirahat sambil menunggu tanda ayam jantan berkokok agar batu itu boleh diletakkan pada tempat  di Nua Komba-pintu masuk kampung.

Cukup lama mereka istirahat. Bahkan ada diantara mereka nyenyak tidur. Setelah ayam berkokok tiga kali mereka  mulai bergegas angkut batu itu. Apesnya pada saat itu bagian pinggir salah satu sudut batu  menyentuh ‘bere’ (tas dalam bahasa lokal Bajawa)  warga asal Bajawa yang ikut serta dalam prosesi angkut batu itu.

Ternyata  dalam tas  itu berisi  seekor anak anjing yang sengaja dia ambil dari  kolong rumah  warga Watu Lajar-Todo ketika proses angkut  dua loh batu  itu. Seketika itu  pula terjadilah siang. Batu itu pun tidak bisa diangkut lagi. Batu tetap berdiri angkuh di sudut  kampung. Kemudian batu ini popular disebut Watu Susu Rongga. (kanis lina bana/bersambung)

Pos terkait