Sebelum berangkat ke Watu Lajar-Todo delapan orang utusan ini mendapat wejangan dari Jawa Tu Nay Patty. Tujuannya agar mereka selamat dalam perjalanan. ‘Bersih’ dari godaan. Sebab mereka pergi tanpa membawa apa pun. Meski demikian mereka harus ekstra hati-hati. Bagaimana proses mengambil dua loh batu itu agar bisa tiba di pintu masuk kampung sebelum ayam berkokok tiga kali.
Proses evakuasi berjalan lancar. Dalam waktu sekejap dua loh batu itu sudah mereka angkut. Hal itu diyakini karena leluhur Todo merestuinya. Dua loh batu ini menjadi tanggung jawab delapan utusan. Mereka terbagai dalam dua kelompok. Kelompok pertama bagian depan batu. Kelompok kedua bagian belakangnya.
Mereka pikul batu itu hingga tiba di tengah kampung Sambi Lewa sebelum larut malam. Maka diputuskan untuk istirahat sambil menunggu tanda ayam jantan berkokok agar batu itu boleh diletakkan pada tempat di Nua Komba-pintu masuk kampung.
Cukup lama mereka istirahat. Bahkan ada diantara mereka nyenyak tidur. Setelah ayam berkokok tiga kali mereka mulai bergegas angkut batu itu. Apesnya pada saat itu bagian pinggir salah satu sudut batu menyentuh ‘bere’ (tas dalam bahasa lokal Bajawa) warga asal Bajawa yang ikut serta dalam prosesi angkut batu itu.
Ternyata dalam tas itu berisi seekor anak anjing yang sengaja dia ambil dari kolong rumah warga Watu Lajar-Todo ketika proses angkut dua loh batu itu. Seketika itu pula terjadilah siang. Batu itu pun tidak bisa diangkut lagi. Batu tetap berdiri angkuh di sudut kampung. Kemudian batu ini popular disebut Watu Susu Rongga. (kanis lina bana/bersambung)







