Semula hanya warga perdana Suku Nggeli yang menempati kawasan Sambi Lewa. Seturut kisah awal Suku Nggeli. Selepas pendaratan di bibir Pantai Watu Sedhu, warga perdana Suku Nggeli itu sempat hela napas beberapa minggu. Seiring perjalanan waktu mereka mencari tempat yang lebih nyaman untuk memulai kehidupan baru. Maka Sambi Lewa jadi pilihan utamanya. Mulailah mereka berteduh di tempat itu seraya menenun kehidupannya.
Namun kemudian, warga perdana Suku Motu menyusul ke Sambi Lewa. Bermukim di tempat itu. Ada kisahnya hingga warga Suku Motu berpindah dari Sarikondo ke Sambi Lewa. Praktis warga awal di Sambi Lewa, dua suku ini bertetangga. Menurut tutur lisan dua suku ini ‘bersaudara’. Tidak akan saling mengkhianati peradaban itu.
Seturut kisah lisan juga. Turunan perdana Suku Nggeli memiliki jiwa pemberani. Ada dua orang bersaudara yang terkenal. Yaitu, Jawa Tu dan Nai Patty. Kakak beradik. Keduanya memiliki kemampuan luar biasa. Manusia talenta tinggi. Fisiknya tinggi besar. Otaknya cerdas. Memiliki senjata ajaib. Sosok keduanya disegani. Sekaligus kebanggaan orang Rongga umumnya dan suku Nggeli khususnya.
Kisah heroik Jawa Tu Nai Paty dilukiskan. Konon, ketika Raja Todo hendak berperang melawan Cibal. Saat itu posisi Todo sudah terjepit. Terancam kalah. Sebab dua kesempatan berperang sebelumnya, pihak Todo selalu menderita kekalahan. Pertempuran ketiga sangat menentukan. Apakah Todo tetap bertahta sebagai pusat kekuasaan raja atau kekuasaan raja bakal bergeser ke Cibal.







