Sambilewa,  Jejak  Keramat Melukis Makna

Menhir Sambilewa
Batu megalit peninggalan leluhur di Sambilewa. Foto/ist

Sekembalinya dari peperangan Todo, Jawa Tu Nai Patty menjalankan kegiatan hariannya di Sambi Lewa. Hidup layaknya dengan warga sekitar. Namun beberapa tahun kemudian. Lambat laun  kondisi lingkungan dan perkampungan  di Sambi Lewa dan sekitarnya mulai terancam. Terutama maraknya pencarian manusia untuk dijadikan hamba sahaya  dan serdadu perang. Apalagi Jawa Tu Nai Patty sudah tua. Tenaga dan kekuatannya sudah kusut.

Karena itu Jawa Tu Nai Paty bersama warga setempat sepakat  mendatangkan dua loh batu besar untuk  menutup pintu gerbang masuk kampung.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Menurut kisah lisan, sebagaimana dituturkan Markus Bana. Jawa Tu Nai Patyy mengirim utusannya   mencari batu sesuai kebutuhan itu. karena itu, hampir seluruh wilayah Manggarai ditelisik. Mencari batu  dimaksud.

Ketika utusan  Jawa Tu Nai Patty hendak pulang, mereka menyisir wilayah selatan. Saat itulah mereka menemukan dua loh batu yang dibutuhkan itu. Dua  loh batu yang dimaksudkan itu, ada di Watu Lajar-Todo.

Utusan Jawa Tu Nai Patty menginformasikan lokasi dua loh batu itu ditemukan. Maka Jawa Tu Nai Patty mengutus utusannya untuk bertemu Raja Todo. Meminta  agar dua loh batu itu dizinkan, untuk dipindahkan ke Sambi Lewa.

Lantaran antara Raja Todo dengan Jawa Tu Nai Patty ada hubungan khusus, maka Raja Todo tidak keberatan dengan permintaan itu. Dua loh batu diizinkan, jika sangat membutuhkan.

Maka sesuai rencana berangkatlah delapan orang  utusan Jawa Tu Nai Patty  pergi ke Watu Lajar-Todo untuk angkut dua loh batu itu. Anggota rombongan termasuk salah seorang pria asal Bajawa. Kebetulan pria itu sedang berada di Sambi Lewa. Ketika mendengar rencana akan pergi ke Watu Lajar-Todo, pria asal Bajawa itu  menawarkan diri untuk ikut. Jawa Tu Nai Patty tidak keberatan dengan tawaran itu. Asalkan pria asal Bajawa itu patuhi seluruh perintahnya.

Pos terkait