Cerita Dari Tanah Misi: 25 Tahun Belajar, Berdialog dan Melayani

dengan anak muda

Ketiga belas, secara keseluruhan negara Brazil menganut  “kebebasan”  yang luas sebagai salah satu ciri khas kehidupan sosial bermasyarakat.  Misalnya soal bebas memiliki senjata otomatis  meski dalam aturan dikatakan wajib melapor kepada pihak kepolisian;  bebas beredarnya narkoba;  pergaulan bebas,  gerakan yang kuat dari kelompok  LGBT;  melegitimasi  hidup bersama  antara dua orang  dari jenis yang sama.

Keempat belas, negara juga  tidak bebas  dari masalah:  kemiskinan dan pengangguran struktural, korupsi, kerja paksa  dan lain-lain meskipun dalam penelitian, dia termasuk  satu dari  10 negara yang kaya di dunia.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kelima belas, sebagai konsekuensi dari beberapa hal tersebut di atas, masalah sosial  lain  jadi marak seperti:   penodongan,  perampokan, pencurian, pembunuhan dan jenis-jenis kekerasan lainya menjadi  topik berita yang senantiasa memenuhi layar  media sosial setiap hari.

Para misionaris  dalam negri sendiri mengakui bahwa  “tidak gampang hidup dan   berkarya sebagai misionaris di Amazon, karena tidak hanya urus soal sakramen tetapi juga soal  kebutuhan  jasmani  manusia.

Menghidupi dan menjalani  misi  Tuhan,  menjelang  25 tahun di tanah  Amazon-Brazil,  seperti biasa saya  berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan Yang Mengenal Aku. Sebab Dialah yang memanggil dan mengutus aku.

Pertama : karena Tuhanlah  yang senantiasa memampukan  saya  dengan rahmat:  cinta kasih, iman dan  harapan  dalam  suka duka  saat  berkarya.

Kedua:  saya  berterima kasih kepada sama saudada  SVD dari  belasan negara asal  yang  mendukung  karya  saya; juga berkat  dialog dengan imam, biarawan-biarawati gereja setempat.

Pos terkait