Susah Senang bermisi di Amazon
Saya jadi ingat kata-kata Santo Yosef Freinademetz, “Tempat misi adalah tempat yang dikehendaki Tuhan kepada kita.
Saya coba mencatat beberapa hal kecil sekadar memberi panorama tentang senang dan susahnya hidup sebagai misionaris di Amazon.

Pertama, seiring perjalanan waktu saya pahami bahwa di Amazon atau Brazil pada umumnya termasuk Amerika Latin, semua tingkat usia umat kristen awam masih banyak yang aktif ke gereja dan sungguh bertanggung jawab dalam karya pewartaan Injil. Lebih khusus lagi kaum hawa yang nota bene dalam Sinode Pan-Amazonia dijuluki sebagai “tulang punggung” dan “nadi” kehidupan gereja.
Kedua, iklim di Amazon mirip di Indonesia yakni tropis atau hanya ada musim kemarau dan musim hujan. Alhasil, jenis-jenis makanan, sayur dan buah yang kita kenal di Indonesia ada juga di sini. Contohnya: biji merungge (kelor) yang saya bawa dari Lembata tahun 2007 sudah tersebar di beberapa tempat atau biji sawo dari Hokeng yang saya tanam tahun 2010. Enam 6 tahun kemudian kami nikmati hasilnya.
Ketiga, makanan harian seperti biasa ada nasi, sayur, ubi-ubian, buah-buahan, ikan air tawar, daging ayam atau daging sapi, selain roti dan keju atau mentega seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.
Keempat, sebagai misionaris di Amazon, katakan saja setiap misionaris (pastor, bruder, awam, suster atau juga frater ) dipacu atau diwajibkan untuk bisa melayani diri sendiri, dalam artian harus bisa kerjakan sendiri tugas-tugas misi. Misalnya harus bisa mengemudi kendaraan saat berpatroli sesuai medan kerja atau melayani urusan dapur untuk makan minum harian (biasanya pagi dan malam), urusan belanja, atau rawat rumah pastoran meski pun rata-rata ada pekerja di paroki.







