“Hati-Hati, Bro! Post Power Syndrome Diam-Diam Merayap”

ilustrasi kekuasaan3

Oleh P. Kons Beo, SVD

Kons beo3 1

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Seolah-olah Masih….

 Ada yang aneh di sekitar kita. Terkadang bisa‘umpan emosi’. Tetapi banyak lucunya juga. Sering pula kita hanya menatap dengan ‘perasaan kasihan lagi’ dan berusaha memahami keadaannya saja. Yang aneh-aneh itu misalnya “mudah tersinggung, pemarah, tidak diterima dibantah oleh orang lain, tidak mau kalah saat berdebat, terus-menerus menceritakan kondisinya saat masih berjaya, menghindari bertemu dengan orang lain, kerap menyerang pendapat orang lain, selalu saja mencari cara untuk mengeritik orang lain, dan merasa depresi.” Bisa alami pula kesulitan dalam istirahat malam.

Apa yang dilukiskan di atas adalah beberapa gejala yang tampak dalam diri seseorang yang mengalami Post-Power Syndrome, disingkat PPS (Azelia Triviana, 2019).

Dapat dibayangkan, seseorang yang dulunya begitu di atas angin dalam kuasa, tiba-tiba saja harus berhenti dari kuasa serta dari segala hak dan wewenang karena kuasa jabatannya. Segala sesuatu, kini,  terasa redup dan suram. Tak punya alasan dan judul lagi untuk bertitah, bersuara, mengatur ini itu, bergerak leluasa ke sana-sini, senyap dari lingkaran elitis, ataupun tak terhitung lagi dalam protokol-protokol resmi. Dari area main celebran menuju group con-celebran.

Telaah psikologis tandaskan bahwa PPS adalah “satu gejala yang terjadi di mana penderita tenggelam dan hidup di dalam bayang-bayang kehebatan, keberhasilan masa lalunya sehingga sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang. Maka, amat tak sulit sebenarnya untuk menelisik gejala PPS pada diri seseorang. Katakan saja secara sederhana dalam menangkap kalimat, “Ya, ketika saya masih menjabat sebagai pemimpin, sudah banyak hal yang dibuat. Sebenarnya yang sekarang ini tinggal lanjutkan saja. Tetapi nyatanya….”

Pos terkait