atau kesejahteraan bersama (bonum commune). Apakah para penderita PPS ini hadir hanya untuk memperpanjang daftar nama pada kolom barisan sakit hati karena segala harapan demi kepentingannya tak tercapai? Hal ini tentu menuntut survai atau telaah serius. Tapi, sudahlah! Kasihan juga ya, para pasien PPS ini? Mungkin ini ada di lingkaran sekitar kehidupan Anda? Atau malah Anda sendiri tengah mengalaminya?
Apakah Yang Mesti Disikapi?
Tentu tak semua orang selepas kuasa dan jabatan, langsung terseret arus PPS. Karena toh, ada sekian banyak yang nampak ceriah dan hidup-hidup setelah selesai masa kuasa dan jabatannya. Ada yang ceriah karena bisa bersahabat dengan alam. Hidupnya kini sungguh bebas merdeka. Tanpa ada lagi ikatan resmi dengan aroma kuasa dengan segala kewajiban di baliknya. Memelihara bunga, perhatian pada sawah-ladang serta kolam ikan ataupun ternak piaraan, punya banyak waktu untuk relaks, bertekun pada hoby seperti membaca adalah jalur-jalur sehat serta bijak untuk tidak dimakan rayap PPS. Jelas, ada sekian banyak mantan penguasa yang tetap produktif, serta tahu mengolah hidupnya dalam keteduhan batin atau memilih yang terbaik di ziarah hidup selanjutnya. Dan demi kebaikan yang lebih luas.
Tetapi repotnya, bila bayang-bayang kejayaan hari silam masih mendera! Di luar self-control akan berakibat pada reaksi-reaksi buruk dalam hidup. Dapat menimbulkan malapetaka dan bisa melahirkan derita dalam hidup. Pada penderita PPS pada level serius tentu dibutuhkan penanganan ekstra. Namun, tetap ada hal praktis untuk mengakrabi. Menjaga komunikasi, tetap mendengarkan, masuk dan terlibat pada apa yang dilakukan serta memberi apresiasi, menawarkan kerja-kerja ringan yang mengesankan bagi kaum tak berkuasa lagi adalah tindakan-tindakan praktis yang menceriahkan dan melegahkan!







