Demikianlah si penderita PPS pasti larut dan berulang-ulang akan narasikan segala kelebihannya dalam framing komparatif. Artinya, ia pasti selalu berusaha agar terdengar lebih unggul dan cemerlang dari siapapun yang lain di masa kini atau masa sebelum ia berkuasa. Segala masa lalu itu telah ia lewati dengan jerih payah yang luar biasa. Dan lagi, ‘cerita hebat masa lalunya’ dibuatnya jadi dagangan ke sana-ke mari. Dari satu tempat ke tempat lain. Tentu dengan kiat menistakan yang bukan di masanya.
Segala alam kejayaan itu, de facto et de iure, memang telah berlalu. Namun sayangnya, si penderita PPS tetap gagal juga untuk bisa menerima dan mengakui kenyataan itu dalam keteduhan batin. Ia bisa saja bertindak tampaknya atau seolah-olah masih sebagai orang berkedudukan dan masih menjepit tongkat komando.
Di sisi lain lagi, misalnya, sebagai akibatnya, rasa mau terus berkuasa dan terlebih ingin tunjukkan pengaruh, menggiring penderita PPS untuk membentuk group atau perhimpunan apa saja. Katakan saja ini dilihat sebagai kelompok tandingan. Tentu dengan harapan tebal: mesti tetap tampil sebagai orang nomor satu, didengarkan, serta menjadi rujukan untuk segala soal di kelompoknya.
Sayangnya, seringkali ajang kebersamaan ini hanya dipakai sebagai medium agar si penderita PPS tetap didengar dengan segala lika-liku nostagianya. Dan lebih riskan andaikan reunian itu dipakai sebagai saluran bagi si penderita PPS untuk menyalurkan pengaruh negatif dan deviatif yang berafiliasi pada gerakan dan tindakan anarkis.







