Sepatutnya kita sadari pula, soal PPS, kata para ahli, bukan soal menyangkut kuasa dan jabatan yang ‘hilang’ atau ‘terlepas.’ Tetapi juga bisa merambah pada siapapun yang tetap berada bayang-bayang kejayaan dan popularitas di masa lalu seperti karir, kecantikan atau ketampanan, bakat luar biasa, atapun kepintarannya. Sayangnya, segalanya telah berlalu! Orang menjadi tak siap untuk masuk dan mengalami atmosfer baru tanpa kuasa dan tiada wewenang. Telah redup dan bahkan punah segala ketenaran di hari silam, yang dulunya penuh dengan segala hiruk pikuk standing ovation. Penuh pujian.
Menghadapi si pasien PPS tentu mesti bertolak dari pengetahuan akan latar belakangnya. Setiap orang yang terdampak PPS tentu berbeda satu dengan yang lainnya. Triviana mengingatkan, “Bagaimanapun, mereka adalah orang yang pernah berjasa untuk hidup orang-orang di sekitarnya.” Sekali lagi, tetap menjalin komunikasi adalah jalan terbaik. Di sudut hati terdalam, tetap ada kerinduan kecil untuk mengharapkan pengakuan pada batas kewajaran.
Pada Akhirnya…
Hidup ini adalah satu ziarah yang menggembirakan. Tak cuma asal hidup. Siapapun menginginkan satu forma dan isi kehidupan yang melegahkan! Tetapi, selalu peganglah keyakinan bahwa hidup ini miliki irama, atau katakanlah rahasianya sendiri. Misalkan saja, apa yang di hari itu dianggap sebagai kejayaan dan sukacita , hari ini sudah berubah jadi keterpurukan dan kesedihan. Sebaliknya apa yang saat itu dialami sebagai kesuraman dan kesedihan, dalam kuasa Tuhan, kini bisa berubah jadi cahaya terang penuh sukacita.







