Paskah: Memaknai “Tabir Terbelah” Mengejawantah Rumusan Teologi Terlibat

IMG 20250329 WA0009

Dari pikiran C.S. Song, teolog berkebangsaan Taiwan, diungkapkan, bawa “tirai sebagai pelindung dari apa yang disebut sebagai “rahasia mesianik” yang tidak boleh dibagikan kepada orang lain. Untuk melindunginya dari terobosan orang non-Yahudi, tirai yang tebal dan berat harus dipasang antara ruangan dalam Bait Suci dan halaman luarnya, yaitu ruang dimana “rahasia mesianik” ini dijaga amat ketat oleh para imam.” Namun pada akhirnya ketahanan tirai itu terbelah dengan adanya peristiwa kematian Yesus Kristus.

Tabir-Tirai terbelah dan Teologi Terlibat

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Makna teologis “tabir atau tirai yang terbelah dari atas sampai ke bawah melahikran beberapa point refleksi. Pertama, Allah adalah Allah yang tidak bekerja di balik tirai, terpisah dari orang-orang di luar agama Yahudi (bangsa lain) yang sudah dilembagakan.

Allah justru adalah Immanuel, bagi semua dan juga yang terpinggirkan (bdk Mat. 25:36). Terbelahnya tirai Bait Suci, berarti mengakhiri suatu perlakuan diskriminatif. Lahir harapan baru bagi orang-orang di luar agama Yahudi untuk mendengarkan Kabar Baik.

Kedua, terbelahnya tirai Bait Suci, serentak juga menghadirkan krisis bagi sebuah agama yang telah dengan semangat yang keliru menjadikan Allah sebagai harta milik istimewa yang dimonopoli oleh suatu bangsa atau komunitas keagamaan tertentu.

Atas peristiwa itu, para pemimpin agama Yahudi menghadapinya dengan penuh ketakutan dan kekecewaan, karena tempat ibadah yang diyakini sebagai tempat kehadiran Allah itu kosong. Allah tidak berada di sini, sebagaimana yang mereka ajarkan selama ini. Allah dalam Yesus berada di sana, di atas bukit tengkorak.

Pos terkait