“Yang lain” yang disoroti Teologi Terlibat, di antaranya adalah yang dipinggirkan, yang asing, yang di luar pusat perhatian dan di luar lingkaran dominasi kekuasaan, orang-orang dari golongan agama dan kepercayaan lain bahkan berpaham ideologi sekuluer, juga alam lingkungan yang terlampau gampang menjadi korban manipulasi keangkuhan manusia. Akhirnya yang dimaksudkan dengan “yang lain” dalam Teologi Terlibat adalah Allah sendiri.
Jika realitas “keterbelahan” itu meggambarkan situasi dan keagamaan kita hari-hari ini maka marilah memulai kehidupan keimaman dan kegamaan kita dengan masuk dalam babak baru “Teologi Teribat”, supaya manusia dan kemanusiaan kita yang mengandung unsur Ilahi dihantar kepada ke-Ilahian yang utama dan murni. Start awalnya mulai didunia nyata dengan perjuangan untuk ‘Bonum commune” dan keselamatan dan kebahagian bersama serta keselaran hidup dengan alam lingkungan sebagai Rumah Kita Bersama.
Karena masih terus hadir aneka krisis dalam realitas hidup keberagamaan kita. Wujudnya serupa krisis hubungan antar-agama, termasuk krisis kesadaran beragama dan krisis yang berkaitan dengan masalah relevansi dan identitas. Iman terhadap kebenaran tidak lagi menurut agama melainkan dicapai melalui penalaran dan alasan-alasan rasional. Jelaslah bahwa yang dipertaruhkan di sini adalah “kebenaran yang mutlak”.
Hans Kung, seorang Rohaniwan, Filsuf dan Teolog Katolik dari Swiss-Austria, mengungkapkan tentang esensi “agama sejati” sebagai berikut, “dalam sejarah gereja dan agama, pertanyaan tentang kriteria agama sejati inilah yang paling menimbulkan pertengkaran dan konflik berdarah bahkan perang agama”.
Diungkapkan juga bahwa, “Di sepanjang sejarah, dalam semua agama, semangat buta dalam mengejar kebenaran telah mengakibatkan penganiayaan, penghancuran dan pembunuhan. Masing-masing agama cenderung mengklaim ajarannya sebagai yang paling benar, padahal pengakuan kebenaran (dalam satu agama) meliputi keberanian untuk menyelidiki ketidakbenaran dan membeberkannya dengan jelas”.






