Paskah: Memaknai “Tabir Terbelah” Mengejawantah Rumusan Teologi Terlibat

IMG 20250329 WA0009

Para pemimpin agama Yahudi tidak saja terkejut dengan figur Allah semacam ini, namun keterkejutan itu sendiri teramat menyakitkan, karena yang pasti mereka kehilangan hak-hak istimewa, ketika berhadapan muka dengan Allah yang tersingkir ke dan di salib.

Ketiga, Terbelahnya tirai Bait Suci, beri bukti bahwa agama gagal tiba pada kesadaran bahwa ia tidak dapat mematok batas/ ruang gerak bagi Allah dengan segala karya-Nya. bahwa agama-agama harus mengakui kuasa Allah sesungguhnya yang (sering) cenderung dipandang rendah. Dan bahkan lebih tragis lagi, agama sering membuat kesalahan fatal, yakni menganggap bahwa mampu menjelaskan secara tuntas ke-Allah-an dan kehadiran Allah.
Keempat, Tirai terbelah bersamaan dengan kematian Yesus Kristus di salib merupakan suatu penghakiman, tidak saja terhadap dosa dunia, melainkan juga terhadap agama-agama yang menyembunyikan Allah dari orang banyak; yang salah menampilkan wajah Allah (melalui doktrin-doktrin agamanya) bagi dunia di sekitarnya.
Kematian Yesus Kristus ini secara terang-terangan menggugat kepongahan agama-agama yang membangun tembok-tembok di antara yang selamat dan binasa, saleh dan kafir; agama yang mengukur kedalaman, luas dan lebarnya kasih Allah dengan pelbagai ukuran seperti tradisi, ortodoksi dan hukum-hukumnya sendiri.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kematian Yesus Kristus menjungkirbalikan ortodoksi agama, dan memberikan tamparan keras kepada mereka yang cenderung memanipulasi kehadiran Allah dengan mempergunakan ukuran-ukuran yang bersifat doktriner, sambil berusaha mati-matian lewat menawan Allah dalam kerangka teologi mereka yang kaku.
Cara pandang selanjutnya adalah masuk dan bergumul serta mengejawantahkan paham “Teologi Terlibat”, suatu teologi yang mengharuskan umat telibat dalam persoalan budaya bahkan politik dan membarui cara pandang atas warisan ajaran agama yang mendiskreditkan dan menutup diri terhadap “yang lain”.
Dengan paham “Teologi Terlibat” ini manusia dan seluruh usahanya berjuang bersama menghayati hidupnya di tengah system yang menindas yang lemah, miskin dan melindungi yang kuat. Signifikansi usaha untuk kehidupan bersama adalah “bonum Commune”.
Dengan pemahaman yang cukup bahkan lebih, seluruh manusia dari segala lapisan dan kaum mulai berteologi tentang “yang lain”. Dalam arti membuka mata, telinga dan hati untuk melihat, mendengar dan menyadari dan menerima keberadaan “yang lain”, Ungkap Kleden –Mgr. Paul Budi Kleden (2003), dalam bukunya, Teologi Terlibat, politik dan Budaya Dalam Terang Teologi.

Pos terkait