Paus sosok hebat lantaran gagasan dan “daya ajakan”nya, agar semua “manusia bersaudara dan persaudaraan itu untuk perdamaian dunia dan hidup bersama” (Cfr. Dokumen Abu Dhabi, Human Fraternity), dan refleksi mendalamnya dan gemilang yang terbahasakan dalam ensiklik Fraterlli Tutti (persaudaraan universal dan persahabatan sosial).
Buah pikiran inspiratif dan urgen untuk suatu tata hidup mondial, serentak mengajak dunia bahkan mengharuskan semua manusia berjuang bersama menghayati hidupnya di tengah sistem yang menyebabkan ketidakadilan sosial, kekuasaan yang menindas yang lemah, miskin dan melindungi yang kuat serta mengajak semua hati menjaga bumi-hunian manusia sebagai rumah bersama.
Lebih terang-terangan, suara moral globalnya lewat ensiklik Laudato Si yang mengecam kerakusan ekonomi modern yang merusak bumi. Ia menghubungkan jeritan alam dengan penderitaan orang miskin dan menyerukan ekonomi baru yang berpusat pada manusia dan bukan pada laba.
Paus telah menghidupkan imannya melalui pelayanan kasih (caritas), dan mendasarkannya pada kehendak baik untuk memberi seluruh diri, seperti pemberian diri Yesus Kristus sebagai Imam Agung dan sebagai gembala jiwa-jiwa.
Dalam tugas sebagai episkopal, universal dan supremasi, pelayanan paus adalah suatu Amoris Officium (gembala yang baik). Pelayanannya di dalam dan untuk communion dan missio. Pelayanannya adalah archetypes (pola dasar) pemberian diri Yesus (credonya) sebagai Guru, Gembala dan Imam. Karena itu kebajikan yang membaluti hidup dan karyanya adalah hati yang sabar dan penuh kasih sebagai gembala yang baik. Ia membimbing umat dengan penuh kesadaran, dan adil. Ia mencari kemuliaan Allah dan mengutamakan keselamatan jiwa-jiwa yang terluka.







