Melalui cahaya iman, paus sebagai Uskup Roma, Gembala (pemimpin tertinggi) seluruh umat Katolik dunia dengan otoritas tertinggi/supremasi dalam hal iman, moral dan disiplin gereja, menyertakan dalam dirinya kesadaran akan Gereja (Umat Allah yang terpanggil) yang sedang membutuhkan pertobatan dan pembaharuan diri serta berjalan bersama (perjalanan sinodal) menuju kebaikan sesuai kehendak Allah. Singkat kata, kebajikan utama yang ia tampakkan adalah “sabar, suci, adil, hati-hati dan sederhana.
Kesederhanaannya menyapa seluruh anak-anak (termasuk di nusantara) dengan kelembutan kasih seorang bapak, menggendong dan memberkati mereka, menyapa seluruh warga dengan senyum yang menembus sekat sosial dan untuk pertama kalinya di negeriku bibir petinggi negaraku menyapanya sebagai ‘yang teramat mulia’, ya, terpancar kemuliaan pada kesederhanaanya, kekuatan besar dan kedasyatanya memang tak akan menguasai serta memanipulasi siapa-siapa, karena ia tidak tertarik pada kemenangan atas manusia; kebesaran dan kegagahan amat sangat ia remehkan, dan tak akan pernah ia kenakan sebagai pakaian”. Demikian tulis Gerardus N. Bibang dari Jerman di media onlinenya (23/04/2025), juga di media online Krebadi’a.com.
Ini sosok Paus yang telah menghayati hidup sebagai in persona Christi. Ia hadir sebagai pengantara kesejukan dan kedamaian di kala dunia dan umat manusia membutuhkan peneguhan, sebagai bapak dan pembimbing rohani serta dari kerendahan hatinya melahirkan aneka testimoni.
Ucapan Belasungkawa dan testimoni







