Tidak hanya kesederhanaan yang paus tampilkan, tetapi atas paham “semua manusia saudara”, kejenakaannya sebagai manusia terkuak sebagai penjalin persuadaraan dan kebersamaan. Selain memberikan senyuman khasnya, ia menyapa sembari menatap dan merangkul dengan kasih seorang bapak. Ia menjamah semua hati dengan kehadirannya, menawankan dengan kata dan gimik personalnya.
Fransiskus tahu persaingan sepak bola antara Brasil dan Argentina, dan ada tegangan tinggi di sana. Namun tensi kedua negara bola diturunkan ke tingkat paling rendah dengan jenaka kata-katanya: “Paus adalah orang Argentina. Tuhan adalah orang Brasil”.
Tidak hanya itu. Kepada seorang frater dari Meksiko, tercatat pada 11 Mei 2022, saat audensi umum di Lapangan Santo Petrus, yang bertanya tentang kondisi lutut Paus yang sedang bermasalah, dengan senyum Paus menjawab dalam bahasa Spanyol (diterjemakan) seperti ini: “Tahukah kamu apa yang saya butuhkan untuk kaki saya? Sedikit tequila!” Ini gambaran, Sikap Paus tidak membuat orang takut menghadapinya namun menarik bersamanya untuk mewujudkan kasih persaudaraan.
Ajarannya telah mengajak untuk memperjuangkan dan menjaga kemanusiaan, perdamaian, solidaritas-kesekawanan, menerima pluralisme, peduli kepada sesama dalam segala konteks dan menjaga serta memelihara bumi sebagai rumah bersama dan juga untuk generasi berikut.
Kiranya kita juga didoakan untuk “memelihara Kasih Persaudaran antara kita, dan mengamini kesaksian ini: “Kau dan aku adalah saudari dan saudara; aku jadi lupa agama-mu apa”. Mari kerjakan tugas tugas kita, wujudkan segala ajaran dan harapan dalam keseharian hidup kita, seraya tunduk hormat mengucapkan: RIP. Selamat jalan Paus Fransiskus ke Rumah Bapa di Sorga”!







