Dari kisah yang ditulis oleh Penginjil Lukas, satu hal yang secara implisit disampaikan kepada kita adalah tidak dijelaskan, persembahan apa yang di bawa Yosef dan Maria pada saat itu. Namun bagi orang Yahudi, yang hanya membawa sepasang burung tekukur atau sepasang merpati dinilai sebagai persembahan orang miskin. Yesus tidak miskin, Yosef dan Maria pasti memberi yang terbaik. Sebab bukan anak domba, bukan pula tekukur atau merpati, melainkan Yesus sendiri menjadi kurban bagi Allah dan manusia. Boleh jadi persembahan Yosef dan Maria tidak berkenan di mata orang Yahudi tetapi sangat berharga di mata Tuhan; menjadi Putera yang dikasihi-Nya (bdk. Mat. 3:17; Mrk. 1:11; Luk. 3:22).
Kedua, upacara pentahiran harus dilakukan untuk pemulihhan tubuh dari ibu yang melahirkan. Menurut hukum Yahudi, seorang ibu yang melahirkan dianggap najis. Kalau melahirkan seorang anak laki-laki, dia menjadi najis selama 40 hari. Dan kalau anak perempuan, ibu yang melahirkan itu menjadi najis 80 hari lamanya.
Terlepas dari semua itu, inti dari upacara pentahiran ini ialah kelahiran seorang anak. Bagi orang Yahudi – juga bagi kita – kelahiran seorang anak adalah anugerah Allah. Allah memberi anak kepada ibu dan bapa. Orang tua dari anak itu mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memelihara, menjaga, mendidik dan melindungi agar pada saatnya ketika anak itu harus dikembalikan kepada Allah, ia harus dikembalikan dalam keadaan seperti waktu dia datang; masih bersih; murni tanpa dinodai oleh satu kesalahan.







