Memimpin Kota Kupang dalam rentang 18 September 1978-26 Mei 1986, Mesakh punya banyak kisah dan pengalaman. Dia agak sungkan disejajarkan dengan seorang kepala daerah seperti bupati atau walikota. “Kota administratif itu mirip dengan kecamatan, masih di bawah Kabupaten Kupang. Pemerintahan lebih banyak dapat dukungan dari provinsi,” tegasnya.
Dengan antusias, Mesakh menjawab pertanyaan Tony Kleden dari Kabar NTT. Ikuti petikannya.

Sebagai Walikota pertama di Kota Kupang, seperti apa Bapak melihat wajah Kota Kupang sekarang?
Kupang semakin maju. Pembangunan terjadi di mana-mana. Tetapi sepertinya tanpa arah, karena tata ruangnya tidak jelas lagi. Pembangunan campur baur, ruko-ruko sepanjang jalan sekarang. Saya tidak tahu seperti apa sistem pengaturannya sekarang, tetapi saya lihat semua campur aduk.
Dalam tata ruang itu kan ada ruang campuran, peruntukannya ya campuran….
Betul. Tetapi semua tempat sudah jadi campuran sekarang. Pembangunan juga hanya fisik. Sektor lain seperti pembinaan anak muda belum terlalu diperhatikan. Ruang umum terbuka itu hampir tidak ada lagi. Ruang umum terbuka itu sangat penting sebagai tempat anak-anak muda mengekspresikan jatidirinya. Lihat, anak-anak muda sekarang bermain di jalan umum. Kalau perlu di tiap kelurahan itu ada ruang terbuka untuk umum sebagai tempat bermain anak-anak muda, tempat mereka berekspresi.
Pembangunan infrastruktur seperti apa bapak lihat sekarang?







