Itulah yang kemudian ditegaskan Walikota Kupang, Christian Widodo, dalam sambutannya. Seraya memberikan apresiasi khusus berupa hadiah pada dai cilik, orang nomor satu di Kota Kupang ini menegaskan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan. Karena itu, ia mengajak seluruh pegawai Kementerian Agama untuk terus berkontribusi mewujudkan masyarakat Kota Kupang yang harmonis dan damai.
Nada yang sama disampaikan oleh Kakan Kemenag Kota Kupang, Anton Nggaa Rua. Dalam sekapur sirihnya, ia mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut, sambil berharap agar halal bihalal tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial, tetapi menjadi momen untuk berjalan bersama.
Ia mengutip sebuah pesan yang kerap disampaikan walikota, “Jika ingin berjalan cepat, silakan berjalan sendiri. Namun jika ingin berjalan jauh, mari berlangkah bersama-sama.” Pesan-pesan halal bihalal itu masih menggema dan akan terus tinggal dalam hati setiap ASN Kemenag Kota Kupang.

Menggali Pengampunan di Rutan Kupang
Namun sebelum acara resmi itu dimulai, bersama dua Penyuluh Agama Katolik, Andreas Lero Bulu dan Albinus Legimani, kami memanfaatkan waktu pagi untuk sebuah pelayanan sederhana.
Pukul 08.30 hingga 09.45, kami menyatu dengan warga binaan di Rumah Tahanan Negara Kupang. Di balik tembok dan jeruji, suasana tentu berbeda. Namun justru di sanalah Sabda Tuhan kembali menemukan ruangnya.







