Sebagai peneguhan, kami menegaskan bahwa Gereja memang mengajarkan tentang dosa—ketika manusia dengan sadar, tahu, dan mau melanggar kehendak Allah. Namun iman tidak berhenti di sana. Iman justru mengajak melangkah kepada pengampunan dan belas kasih.
Di penghujung ritus Pengakuan Dosa, imam berkata, “Allah, Bapa yang maharahim telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui wafat dan kebangkitan Putra-Nya, dan telah mencurahkan Roh Kudus demi pengampunan dosa. Semoga Allah memberikan pengampunan dan damai kepada saudara melalui pelayanan Gereja. Maka dengan ini saya melepaskan engkau dari dosa-dosamu.” Pernyataan yang tegas namun membawa damai. Saat Allah tidak lagi memperhitungkan kesalahan manusia.
Kegiatan penyuluhan agama hari ini pun berakhir. Namun, ketika berjalan hendak meninggalkan Gereja ekumene, seorang bapak mendekat dan berbagi lebih dalam:
“Waktu saya pertama kali ditahan di Ende, saya tidur hanya beralas tangan dan ditemani satu botol air. Di situ saya berpikir: untuk apa saya terus simpan marah? Lebih baik saya mengampuni.”
Ia memilih sesuatu yang tidak mudah: mengampuni. Ia melanjutkan kisahnya. Suatu hari saudara-sudarinya ingin menjenguk. Jaksa menghubungi istrinya. Namun anaknya justru melarang. Ia ingin datang sendiri. Ketika mereka akhirnya bertemu, sang anak menceritakan semuanya. Ayah ini berkata, “Bapa sudah maafkan semua orang. Jadi tidak perlu sakit hati lagi.”
Di balik jeruji, ia menemukan kebebasan yang tidak semua orang miliki: keberanian mengampuni dan keluasan hati untuk berhenti membenci. Di tempat yang bisa jadi menjadi sumber rasa putus asa, justru menjadi ladang berseminya iman yang hidup. Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar kesalahan yang menentukan masa depan seseorang, tetapi seberapa dalam ia berani mengampuni dan berubah.







