Ketika Pengampunan Mengalir dari Balik Jeruji ke Halal Bihalal

DEPAG KOTA KUPANG

Albinus memimpin ibadat yang berlangsung hening dan khidmat. Andreas melayani permintaan konseling pribadi seorang warga binaan. Dan, saya dipercayakan membawakan renungan yang diambil dari Injil Yohanes 3: 7-15 seturut penanggalan liturgi Gereja Katolik. Perikope ini dengan jelas memuat keyakinan penginjil bahwa kemuliaan Tuhan justru berpuncak pada peristiwa salib. In cruce salus, in cruce spes. Dalam salib ada keselamatan, dalam salib ada pengharapan.

Di akhir renungan, sebuah pertanyaan diajukan sebagai bahan refleksi, “Apakah situasi serba terbatas dan penderitaan yang dialami di tempat ini adalah juga momen saya mengalami keselamatan dan pengharapan dari Tuhan? Dan, dalam hal apa Tuhan memulihkan hati dan diri saya agar mengalami kemuliaan-Nya?”

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Setelah selesai ibadat, pertanyaan itu kembali dilontarkan. Hening sejenak. Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Masing-masing warga binaan masuk ke dalam inti dirinya. Lalu, seorang bapak mengangkat tangan. Namun dia tidak menjawab. Justru balik bertanya: “Apa takaran kesalahan dan dosa? Bagaimana dengan yang kita lakukan karena sudah di limit kesabaran? Bagaimana saya menghadapi situasi seperti itu?”

Pertanyaan itu jujur namun tidak mudah dijawab. Karena itu, alih-alih memberi jawaban langsung, pertanyaan itu dikembalikan kepada peserta lain. Dan, dari sana, percakapan iman mulai mengalir.

Seorang bapak berbagi. “Di tempat ini saya belajar mengenal diri. Saya tahu kesalahan saya. Dan saya juga belajar mengenal Tuhan dan mencintai Dia, lewat doa dan devosi pribadi,”  kata Bapa itu. Singkat tapi padat. Di tengah keterbatasan, ia menemukan kedalaman dan makna keberadaannya sebagai warga binaan.

Pos terkait