Integritas ala Sang Ustaz
Cerita pengampunan di dalam rutan pagi ini seperti menjadi benang merah dengan ceramah Ustaz, Muhammad Kadri dalam halal bihalal. Ustaz asal Sulawesi Selatan ini mengatakan bahwa seseorang bisa disebut “ahli surga” bukan karena melakukan hal-hal besar, tetapi karena setiap malam sebelum tidur, ia sudah memaafkan semua orang. Pengampunan, ternyata, adalah bahasa iman yang melampaui sekat dan batas manusiawi.
Dari sana, refleksi berkembang pada satu kata: integritas. Integritas diibaratkan dalam tiga bentuk sederhana. Ada yang seperti penggaris—tetap lurus dalam situasi apa pun. Bahkan ketika dipaksa bengkok, ia memilih patah daripada kehilangan kejujuran.
Ada yang seperti tali—lurus ketika ditarik, tetapi kembali bengkok ketika dilepas. Sambil menarik relevansinya bagi ASN, si Ustaz berkata, ada ASN yang jujur ketika diawasi, tetapi berubah ketika tidak ada yang melihat.
Dan ada yang seperti sabit—sejak awal memang bengkok. Diawasi atau tidak, tetap tidak berubah. “Sebagai ASN Kementerian Agama, seperti apa integritas Anda? Janganlah seperti sabit. Jangan pula seperti tali. Integritas Anda diuji—bukan di hadapan orang lain, tetapi di hadapan hati nurani,” pungkasnya.
Sang Ustaz lalu menceritakan kisah Umar bin Khattab. Ia pernah menangis karena seekor unta yang terpeleset. Ia merasa bertanggung jawab: apakah ia sudah cukup memperhatikan jalan bagi rakyatnya?
Integritas, ternyata, bukan hanya tentang hal besar, tetapi juga tentang kesetiaan dalam hal kecil. Halal bihalal hari ini mencapai puncaknya ketika pengampunan dari balik jeruji mengalir melampau tembok ke ruang-ruang nubari setiap anak bangsa: mohon maaf lahir dan batin. Minal Aidin wal-Faizin. (Yosep Sudarso, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Kupang)







