Literasi Meluaskan Cakrawala dan Menemukan Karakter

SMA borong 1

Dikatakannya  di tengah pandemi Covid-19   SMAN 3 Borong menyelam, menangkap,  memahami dan menghayati lima butir Pancasila- jiwa bangsa Indonesia. Dengannya  ‘susu’ pengetahuan budi dan asupan keadaban menghayati butir-butir Pancasila disegarhangatkan.

Dalam spiritualitas itulah refleksi lima narasumber   beberapa waktu lalu menandaskan bahwa lima butir Pancasila adalah kekayaan bathiniah yang dimiliki bangsa Indonesia. Kekayaan bathiniah itu  dipresentasikan  lebih luas dalam tilikan kekayaan bangsa. Kazanah peradaban  itu penjadi pedoman dan pegangan hidup bersama bangsa kita.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Mutiara bangsa itu  harus dirawat, dihayati dalam keseluruhan perjalanan bangsa. Hanya dengan itu kualitas hidup dan kehidupan kita bermakna dan berjiwa bagi diri sendiri, bersama dan berbangsa,” tegas Yohanes Rumat, SE, anggota DPRD NTT Fraksi PKB.

Bupati Manggarai Timur, Andre Agas, lebih menyisir hakekat budaya Manggarai. Angka lima dalam butir Pancasila memiliki asas yang telah lama dihayati masyarakat Manggarai. Lima butir budaya disandingkan dengan lima butir Pancasila menjadi konkretisasi keadaban, kekayaan moralitas hidup bersama. Pertanyaannya, apakah penghayatan lima butir Pancasila di era terang telanjang dewasa ini, di era kompetisi milenial yang melihat dunia semakin kecil ini, kekayaan bersama itu masih berarti bagi kita?

Karena itulah Kepala Sekolah SMAN 3 Borong, Konstantinus Everson Rada, S.Psi, menarasikan kegelisahannya. Sebab  disadari moralitas dan pendidikan budi pekerti sebagai manivestasi lima butir Pancasila  di sekolah-sekolah mengalami paradigma baru yang berdampak pada peserta didik itu sendiri. Karena itu restorasi kurikulum pendidikan moral perlu mendapat tempat sesuai jenjang pendidikan yang ada.

Pos terkait