“Tantangan dunia pendidikan dewasa ini jauh lebih berat. Sebab standarisasi pendidikan moral di tingkat SMA tidak bisa dilakukan dengan baik. Karena itu kegiatan talk show di tengah pandemi Covid-19 menjadi medium perjumpaan dan menjembatani penghayatan lima butir Pancasila itu,” katanya.
Pohon bercabang lima di halaman SMAN 3 Borong, jelasnya, dipermandikan menjadi Pohon Pancasila adalah momentum sejarah dan sejarah itu sendiri. Sebab lima cabang Pohon Pancasila ini secara alamiah membahasakan lima butir Pancasila. Di titik ini, lanjutnya, atribut yang disematkan sekaligus pergulatan untuk menghayati butir Pancasila itu dalam seluruh jelajah pendidikan di SMAN 3 Borong.
Sementara Boni Hargens, pengamat politik Indonesia dalam press conferencenya menyatakan atensi yang luar biasa bagi keluarga besar SMAN 3 Borong.
Menurutnya, masyarakat milenial adalah kelompok masyarakat yang selalu menajamkan kapasitas dirinya. Dan SMAN 3 Borong mempresentansikan realitas milenial itu dalam konteks kekinian yang hidup dan menghidupkan.
Karena itu sesuatu yang indah dan bernilai intelektual yang dinyatakan keluarga besar SMAN 3 Borong di tengah Covid-19 mempresentasikan kegaluan masyarakat Indonesia yang sudah merosot menghayati butir-butir kekayaan Pancasila itu. SMAN 3 Pancasilan Borong, di tengah Covid-19 membidik dan mendalaminya agar jiwa kesaktian Pancasila tetap terpelihara.
“Semoga yang baik dan indah yang dicontohkan SMAN 3 bisa ditularkan ke lembaga lain. Proficiat SMAN 3 Borong,” ucap Hargens.







