Di balik semangat Viky, tak dapat dipungkiri masyarakat Malaka pada umumnya belum memanfaatkan lahan dengan maksimal. Padahal, Malaka salah satu kabupaten tersubur di Pulau Timor, NTT.
“Saya kuliah jurusan komputer. Tapi saya mau coba menanam. Saya tanam di lahan kecil. Saya belajar dari situ. Kalau tidak tanam, kasihan lahan sesubur ini dibiarkan. Barang ini (menanam) harus ada hobi juga,” ungkap Viky Rikho semangat kepada kabarntt.id, Sabtu (22/2/2025).
Ayah tiga anak itu berani memulai. Ia mencoba memulai dari nol (dari tidak tahu) sampai bisa menghasilkan uang dari hasil kebun sayurnya. Penghasilan yang diperoleh tidak hanya untuk memenuhi kehidupan keluarga, tetapi juga untuk membantu tetangga di sekitar.
Di tempat tinggalnya, di Desa Lo’ofoun, Kecamatan Malaka Barat, masih banyak anak muda yang belum sadar mengoptimalkan lahan. Apalagi generasi tua. Kurangnya kesadaran tersebut sebagai salah satu pemicu mereka pergi merantau atau meninggalkan kampung halaman.

Data yang dihimpun, sesuai dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malaka, sejak tahun 2018 angka pengangguran di Malaka sebanyak 3,79%. Dalam perkembangan waktu hingga tahun 2023, menurun menjadi 3,06%, dari total penduduk 190-an ribu jiwa. Pengangguran ini membuka peluang untuk masyarakat bekerja di luar Malaka.
“Kalau hanya duduk bisa terpancing kerja di luar (merantau). Saya berpikir untuk buat sesuatu. Saya memulai dari tidak tahu, tapi modal nekad saja. Ada kendala saya cari tahu di youtube. Akhirnya menjadi paham. Saya pernah ikut pelatihan juga, tapi hanya khusus tomat saja,” ujar Viky.







