Tanpa mengabaikan, kebaikan Allah – Allah mahabaik – bangsa Israel melihat Allah sebagai Allah yang kuat, Allah yang dahsyat, Allah yang hebat, Allah yang perkasa, yang melampaui dewa-dewa bangsa kafir.
Dalam Perjanjian Baru (PB), oleh kedatangan Yesus, Allah tampil sebagai Allah yang mahabaik. Allah yang mahabaik ini, terungkap dalam kata Bapa. Allah adalag Bapa. Dalam diri seorang bapa ada kebaikan, kasih, kerja keras dan perngorbanan.
Saya pernah bertemu dengan seorang bapa, yang tengah bekerja keras; membuka kebun. Dia sedang menyiapkan lahan untuk bercocok tanam. Rupanya tanah yang dikerjakan, sudah agak lama ditinggalkan. Rumput tinggi, pohon perdu merambat hampir di setiap kintal, pohon liar menjulang tinggi, ada juga tumbuhan putri malu, yang berduri halus, ada alang-alang yang menghadiakan gatal pada kulit.
Saya katakana demikian: ‘kasihan, bapa harus kerja setengah mati untuk menjadi kebun’. Lalu bapa itu menjawab, ‘Tuang, begini sudah kami ge. Juga karena kasih kepada keluarga, istri dan anak-anak, saya tidak merasa berat untuk kerja’. Adalah sebuah contoh kecil dan sederhana; sebuah gambaran nyata akan Allah yang adalah kasih.
Itulah dua gambaran tentang Allah. Allah yang mahabaik sekaligus Allah yang mahakuasa bahkan dahsyat. Dari pengalaman hidup manusia, dua gambaran tentang Allah ini dapat hadir dalam waktu yang sama. Allah yang mahakuasa dan dahsyat dan Allah yang mahabaik.
Dalam hidup ini, kita lebih mengalami Allah yang mahabaik daripada Allah yang dahsyat. Karena itu kita mudah mendekati Allah, sebagai Allah yang mahabaik.






