Bacaan-bacaan, Minggu biasa V, Tahun liturgi C (Minggu, 9/2/2025); menampilkan tiga tokoh yang merasa diri kecil dan berdosa di hadapan Allah. Dalam bacaan I, ditampilkan tokoh Nabi Yesaya. Dia melihat Allah yang dahsyat dibandingkan dengan dirinya yang adalah manusia dan sangat berdosa. Kedahsyatan Allah dilukiskan demikian; Ia duduk di atas takhta yang menjulang tinggi dan ujung jubah-Nya menyentuh dan memenuhi Bait Suci. Para seraphim berdiri disebelah atas-Nya, … dan berseru Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seleuruh bumi dipenuhi kemuliaan Allah; bergoyanglah alas ambang pintu Bait Allah’ (Cf. Yes. 6:1-4).
Dalam suasana yang dahsyat ini, Nabi Yesaya merasa dirinya sangat kecil dan berdosa; dia merasa tidak pantas apalagi layak berdiri di hadapan Yahwe, maka dia berseru: “Celakalah aku, aku binasa. Aku seorang yang najis bibir. Tinggal di antara orang yang najis bibir” (Cf. Yes. 6:5). Namun, dia juga bersyukur: “Aku telah melihat Sang Raja, Tuhan semesta alam” (idem).
Dengan pernyataan di atas, Nabi Yesaya mau menunjukkan bahwa Yahwe; Allah itu dahsyat tetapi sekaligus juga dekat.
Kedekatan Allah itu nampak nyata, melalui datangnya seorang serafim, yang membawa bara api, menyentuhnya pada bibir Yesaya, maka seluruh kesalahannya dihapus dan segala dosanya diampuni. Maka dia pasrah untuk diutus, katanya: “Inilah aku, utuslah aku” (Cf. Yes. 6:8).
Tokoh yang kedua adalah St. Paulus. Seperti Nabi Yesaya, demikian juga Santo Paulus. Dia merasa dirinya paling hina dari antara para rasul yang lain; karena dia sudah menghina jemaat Allah. Namun, dia tidak dihukum karena besarnya kasih karunia Allah. Dan dalam tugas pewartaannya, dia sangat aktif, giat, tanpa takut, juga berani karena disertai oleh kasih karunia Allah.






