Ada orang pintar, tetapi kepintarannya itu dipakai untuk diri sendiri dan bukan untuk membantu orang lain. Ada orang yang menduduki jabatan penting dalam masyarakat atau dalam kehidupan menggereja, tetapi jabatan itu bisa disalah fungsikan untuk kepentingannya semata. Ada orang yang rajin berdoa, tetapi tidak peduli akan orang lain. Padahal karunia-karunia itu menjadi baik dan berguna, jika dipakai untuk kepentingan bersama.
Bunda kita Maria, memiliki karunia untuk melihat apa yang kurang dalam diri manusia dan memiliki karunia iman akan Putera-Nya. Karunia itu dipergunakan Maria pada saat dia melihat ada kekurangan anggur pada pesta pernikahan di Kana.
Maria melihat ada sesuatu yang tidak beres pada pesta pernikahan itu. Di antara orang Yahudi, pesta tanpa anggur adalah satu kekurangan besar yang sangat memalukan. Maria melihat hal itu dan dengan segera, ia berkata kepada Yesus: ‘Mereka kehabisan anggur’ (cf. Yoh. 2:3).
Ia percaya kepada Yesus, maka ia berkata: ‘Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu’ (Yoh. 2:5). Maria adalah perempuan beriman, maka apapun yang dikatakan oleh Yesus, perihal waktunya belum tiba, tidak mengurangi imannya.
Yesus mengubah enam tempayan berisi air menjadi anggur. Katanya, enam tempayan air ini bisa sebanyak 720 liter; karena itu masing-masing tempayan menampung 120 liter anggur. Atau kira-kira satu tempayan menyimpan 240 botol anggur. Jadi, kalau enam tempayan dibotolkan, maka akan menjadi 1.440 botol anggur. Coba kita bayangkan pesta kita di sini. Apakah bisa sampai 1.440 botol arak atau moke?







