Oleh Yos P Seran
Seperti biasa. Sebelum terik matahari bertamu di langit Malaka, Viky Rikho (31), petani milenial asal Dusun Bateti A, Desa Lo’ofoun, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, sudah berada di lahan sayur miliknya di Dusun Kotafoun B, Desa Haitimuk, Kecamatan Weliman, Malaka.
Usai membereskan semua pekerjaan rumah tangga layaknya seorang kepala keluarga, Viky menyiapkan peralatan yang hendak dibawanya ke kebun sayur di Desa Haitimuk. Jarak dari rumah ke kebun sayur sekitar 15-16 Km. Butuh waktu tempuh sekitar 30 menit.
Pria muda berjambang itu selalu ceria setiba di lahan sayur miliknya. Lahan kedua yang digarap Viky berbeda ukuran dengan lahan pertama di rumahnya. Di lahan kedua, dengan ukuran 50 x 100 meter itu, ia manfaatkan dan optimalkan untuk tanaman pertanian dan hortikultura.
Ada jagung, pepaya, dan juga jenis tanaman hortikultura; kacang panjang, paria, tomat, lombok, dan terung. Ada juga jenis sayuran, seperti kangkung, sawi, dan beberapa jenis sayuran lainnya.
Siapa saja yang berdiri di pintu masuk kebun sayur, akan menyaksikan hijauan tanaman sayuran. Sungguh memanjakan mata.

Viky memulai usaha tanam sejak tahun 2024. Awalnya hanya bermodalkan uang senilai Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk membeli bibit sayur kangkung. Dari modal itu, ia kemudian mengembangkan usahanya sebagai petani milenial hingga saat ini.
Meskipun baru setahun lebih berkecimpung dalam dunia tani, ia tak pernah lelah. Daya juang dan semangatnya justru semakin tinggi.







