Oleh Pater Yos Mapang, SVD
Sebagai orang asing di negeri asing, Brazil, tugas pertama dalam pekan pertama adalah melapor diri ke Kantor Polisi Federal (Polisi Negara) untuk urusan visa atau izin menetap sementara.
Dan waktu itu, tahun 1996 sampai tahun 2001, setiap tiga bulan saya wajib melapor diri sekaligus memperbaharui urusan visa demi jaminan keamanan hidup dan tugas misi. Bisa dibayangkan kesulitan berkomunikasi dalam urusan tersebut. Sekadar diketahui bahwa kalau kita terlambat memperpanjang dokumen resmi, maka akan dikirim pulang ke negara asal tanpa kompromi.
Saya cukup sabar dan setia dalam urusan tersebut. Dan itulah pelajaran yang selalu saya sampaikan kepada sama saudara misionaris muda yang datang lebih khusus dari Indonesia saat membantu melancarkan urusan mereka yang sekarang sudah 12 orang lagi selain saya.

Selain urusan visa sementara, saya diberi kesempatan untuk belajar bahasa Portugis secara intensif 6 bulan di rumah pembentukan SVD di Kota Santarém (baca: Santareng). Setiap hari Senin sampai Jumat pagi hari didampingi seorang ibu guru SMA, lalu sore hari ada PR yang harus saya kerjakan. Lalu pada akhir pekan saya dilibatkan untuk berbaur dalam kegiatan gereja di komunitas-komunitas.
Setelah lima bulan, saya ke Brasilia (Ibu kota negara) dan lanjutkan kursus intensif selama satu bulan, waktu pagi , sore dan malam di tempat semacam institut untuk belajar bahasa dan budaya bagi para misionaris asing. Selesai kursus satu bulan itu, pada kesempatan pertemuan tahunan SVD regio Amazon, saya diminta untuk memilih satu paroki untuk mulai bertugas. Jadi urusan selanjutnya soal belajar bahasa asing tergantung dari usaha, ketekunan dan perjuangan sendiri.







