Situasi kondusif seperti ini mirip sekali dengan yang terjadi pada keluarga-keluarga Katolik saat ini di Nusa Tenggara. Banyak orang tua dari keluarga Katolik mengharapkan, mendorong, mendoakan dan mendukung agar ada putra mereka terpanggil mengikuti jejak para imam/pastor. Di tengah gempuran kemajuan teknologi yang begitu memudahkan dan memanjakan dengan tawaran-tawaran kemewahan hidup, seminari baik menengah maupun tinggi, tetap penuh dengan peminat. Saban tahun puluhan remaja menerima jubah sebagai frater dan bruder. Puluhan diaken ditahbiskan menjadi imam, baik dari tarekat religius maupun imam projo, yang membaktikan diri di keuskupan-keuskupan.
Gereja Katolik tentu saja sangat bersyukur karena benih panggilan masih terus bersemi, apa pun tantangannya. Api panggilan tak pernah padam, apa pun kondisi dan situasinya.

Tetapi di balik kegairahan itu ada yang kontras, mungkin juga mencemaskan. Dulu para misionaris Eropa masuk seminari di tengah kehidupan ekonomi keluarga yang relatif baik. Sekarang banyak orang tua kita di sini cukup berat menyekolahkan putra-putra mereka di seminari. Dulu wilayah Gerejani Nusa Tenggara menerima para misionaris dari Eropa dan Amerika. Sekarang sebaliknya, kita mengirim misionaris ke Eropa dan Amerika, Amerika Latin, dan juga Afrika. Dulu para misionaris berminggu-minggu mengarungi lautan menerjang ombak menuju Flores dan Timor dengan bekal semangat, peralatan kerja memadai dan modal finansial yang cukup di tangan. Sekarang para misionaris kita berangkat ke tanah misi dengan modal semangat dan tekad tanpa sesuatu yang berarti di tangan. Dulu seminari-seminari banyak mendapat bantuan finansial dari Eropa melalui tangan para donatur. Sekarang lembaga pendidikan calon imam kita megap-megap dan mesti mandiri dalam hal keuangan. Tidak ada lagi sumbangan dari luar negeri.







