Sektor percetakan juga tidak kalah pentingnya. Tahun 1926 dibangun Percetakan Arnoldus Ende. Mesin-mesin cetak yang didatangkan dari Jerman ini sangat berjasa mencetak buku-buku.

Di bidang penerbitan, SVD juga menerbitkan sarana bacaan untuk umat dan masyarakat umum. Tahun 1925, sebelum Percetakan Arnoldus hadir, SVD sudah menerbitkan majalah Bintang Timoer. Bersamaan dengan Bintang Timoer, diterbitkan juga majalah dalam bahasa Sikka, Kristus Ratu Itang. Kedua majalah ini dicetak di Percetakan Kanisius Yogyakarta yang sudah berdiri tahun 1922. Sejak tahun 1928 Bintang Timoer dicetak di Percetakan Arnoldus. Tahun 1937 Bintang Timoer mati/berhenti terbit. Setelah kemerdekaan, terbit lagi majalah Bentara, Anak Bentara (majalah khusus anak-anak), Pandu Pendidikan (majalah khusus untuk para guru). Semua majalah ini mati pada masa pergolakan politik di tanah air.
Setelah memasuki Orde Baru, tahun 1973 SVD menerbitkan Dwimingguan Dian dan majalah bulanan Kunang-Kunang untuk anak-anak. Dua majalah ini sangat melegenda di NTT. Ketika Indonesia memasuki masa reformasi, mingguan Dian dan Kunang-Kunang berhenti cetak. Sebagai gantinya, SVD menerbitkan koran harian Flores Pos, yang juga akhirnya berhenti cetak bersamaan dengan meluas dan masifnya media sosial di era digital.
Di sektor perhubungan, sejumlah kapal dan motor laut didatangkan. Pada awal berkarya di Flores, Mgr. Petrus Noyen membeli sebuah sekoci bermesin dari seorang penyelam mutiara. Motor laut kecil itu kemudian diberi nama Arnoldus. Arnoldus pertama ini rusak dan diganti dengan Arnoldus II dan kemudian Arnoldus III. Motor kecil ini beroperasi antarpulau di Larantuka dan sekitarnya hingga tahun 1980-an.







