SVD, Peradaban dan Terima Kasih Umat

kapela agung ledalero
Kepala Agung SeminariTinggi St. Paulus Ledalero, Maumere

Mengapa SVD?

Ya, mengapa SVD? Tanggal 13 Januari 1913 tiga imam SVD menjejakkan kaki di Pulau Timor, tepatnya di Atapupu.  Ketiganya adalah Pater Petrus Noyen, SVD, Pater Arnoldus Verstraelen, SVD dan Pater Fransiskus Lange, SVD.  Tiga imam asal Belanda ini datang dari tiga tempat berbeda. Pater Petrus Noyen dari Tiongkok (China), Pater Arnoldus Verstraelen dari Togo (Afrika Barat) dan Pater Fransiskus Lange dari Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tarekat SVD, melalui kedatangan tiga imam perdana itu, mengambil alih  karya misi Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara: NTT, NTB, Bali) dari tangan Serikat Jesuit (SJ). Tanggal 1 Maret 1913 diadakan serah terima misi Kepulauan Sunda Kecil  dari Jesuit ke SVD.

nus narek kongo2
Pater Nus Narek, SVD, misionaris asal NTT sedang membawakan kotbah saat misa bersama umatnya di Kongo, Afrika

Itulah titik awal SVD mengukir sejarah berkarya di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Lahurus menjadi pusat misi. Tetapi Pulau Flores belum diserahkan ke SVD. Serikat SJ belum rela melepas Flores.  Misi Pulau Flores baru diserahkan ke SVD satu tahun kemudian, tepatnya 20 Juli 1914.

Tahun berikutnya, tepatnya 14 Mei 1915, Mgr. Petrus Noyen yang pada waktu itu sudah diangkat menjadi Prefek Apostolik Kepulauan Sunda Kecil memindahkan pusat misi dari Lahurus, Timor  ke Ndao, Ende di Flores.   Dua pulau ini kemudian menjadi medan kerja utama SVD.

Setelah hadir di Timor dan Flores, SVD tancap gas. Mulai membangun Flores dan Timor. Begitu banyak sarana prasarana dihadirkan. Gereja dan kapela dibangun di mana-mana. Di sektor pendidikan banyak sekolah dibangun. Dari sekolah dasar hingga pendidikan menengah atas dan perguruan tinggi. Seminari kecil, seminari menengah dan seminari tinggi dibangun. Kursus-kursus pertukangan, perbengkelan, keterampilan dibangun di banyak tempat.

Pos terkait