Selain Arnoldus, SVD juga mendatangkan Kapal Sta. Theresia dari Australia. Lima misionaris SVD dengan kapten Pater Antonius Thijssen, SVD (yang kemudian diangkat menjadi Uskup Larantuka) membawa kapal itu merapat di pantai Ende pada akhir Agustus 1946.
Membantu karya misi, awal 1950-an, armada misi diperkaya oleh Kapal Siti Nirmala yang dibangun di Indonesia. Selanjutnya, para penanggung jawab wilayah misi Nusa Tenggara, para uskup dan dua serikat religius, SVD dan Suster Misi Abdi Roh Kudus (Servae Spiritus Sancti/SSpS), dengan bantuan orang-orang Katolik Jerman, pembaca Majalah StadtGottes (majalah keluarga yang diprakarsai oleh Santo Arnoldus Janssen) berhasil mengadakan Kapal Stella Maris. Kapal ini diproduksi galangan kapal Travermunde, Jerman 1958, dan tiba di Surabaya pada 1959.
Tak lama setelah Stella Maris beroperasi, dalam rangka Flores-Timor Plan, sebuah proyek besar Gereja Nusra dalam kerja sama dengan Pemerintah Jerman Barat untuk pembangunan sosial, disertai dukungan dana tambahan dari para pembaca StadtGottes, kapal Ratu Rosari dapat dibeli di galangan kapal di Hamburg, Jerman. Kapal legendaris orang NTT ini tiba di Indonesia akhir Agustus 1964.
Di Larantuka, tahun 1971 Mgr. Thjissen mendatangkan Kapal AMA dengan dukungan dana dari anak-anak muda (seperti Orang Muda Katolik/OMK di Indonesia) Austria. AMA itu singkatan dari Anak Muda Austria.
Selain sektor pendidikan, percetakan, penerbitan dan perhubungan, SVD juga membangun sektor pertanian dan perkebunan. Kebun kopi dibuka di Mataloko dan Hokeng. Juga kebun kelapa di Hokeng, Patiahu. Saat ini SVD memiliki kebun dengan areal luas di Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Kupang, SoE, Kefamenanu dan Belu.







