
Kalau pilih siapa, ini mudah saja bagi kita. Mengapa? Karena empat paslon kita kenal dengan baik. Apalagi mereka adalah aktor politik, aktivis sosial, tokoh publik. Nama mereka sudah sangat familiar di telinga orang Flotim.
Sebaliknya kalau pilih mana, ini butuh penjelasan tambahan. Butuh pemahaman lebih lanjut. Mengapa? Supaya tidak salah pilih. Tindakan memilih, mencoblos di bilik suara hanya dalam hitungan detik saja. Tetapi tindakan mencoblos yang singkat itu berdampak, berakibat dan berimplikasi luas, jauh dan lama, lima tahun. Makanya kita mesti memikirkan baik-baik, menimbang dengan saksama, menghitung untung ruginya dengan cermat baru kemudian menjatuhkan pilihan. Dengan demikian, pilih mana menjadi penting untuk kepentingan, kemajuan dan kesejahteraan Flotim ke depan.
Kalau keempat paslon adalah orang baik, maka tinggalkan kriteria ini. Flotim tidak hanya butuh orang baik. Terlalu banyak orang baik Flotim, baik di Flotim maupun di luar Flotim, yang bisa memimpin.
Kalau keempat paslon adalah orang bersih, kriteria ini juga sebaiknya ditinggalkan. Mereka bersih. Terbukti belum pernah berurusan dengan aparat penegak hukum akibat suatu perbuatan amoral, pengguna atau pengedar narkoba atau diduga terlibat korupsi.
Flotim hari ini dan ke depan tidak hanya butuh orang baik dan bersih. Yang dibutuhkan Flotim hari ini dan ke depan adalah kekuatan jaringan dengan pemerintah pusat. Kekuatan jaringan ini sangat penting guna melobi dana-dana di luar APBD dari pemerintah pusat. Kekuatan jaringan ini mewujud dari kekuatan partai-partai pengusung dan pendukung masing-masing paslon.







