Pemilu Dalam Perspektif Budaya Tutu Koda

FABIANUS URAN1

Konteks koda sebagai sebuah amanat yang berharga menegaskan tentang sebuah nilai kebenaran. Koda yang dipercayai sebagai sebuah kepasrahan dalam dialog dengan wujud tertinggi serta para leluhur menegaskan tentang kesetiaan pada kebenaran bukan sebagai sebuah upaya memanipulasi  kejahatan terselubung.

Menyampaikan pesan pemilu adalah kesetiaan dalam membawakan serta mewartakan  kabar gembira, bahwa melalui pemilu dan pemilihan masyarakat berdaulat atas koda-kodanya. Untuk itu kedaulatan ini harus dilindungi dari segala upaya penghancuran melalui  berita-berita bohong, berita manipulatif serta politik identitas yang terus marak dimainkan di media sosial.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kesadaran sebagai Ata Dike (orang baik, bermartabat) hendaknya menjadi penutun bagi semua penutur demokrasi. Para politisi yang akan maju menjemput koda- koda hendaknya menjaga martabat koda tersebut dari upaya perendahan martabat dengan praktek- praktek tidak benar seperti politik uang.

Koda Beridentitas Ata Dike

Setiap orang berhak dan berdaulat atas kehendaknya, aspirasi, harapan.  Kedaulatan yang tidak bisa diwakilkan ketika pemilih menggunakan hak konstitusinya.

Ata Dike, pemilih yang berdaulat juga wajib memastikan telah memiliki identitas diri yakni KTP-el serta terdaftar dalam daftar pemilih.  Beridentitas dapat dimaknai sebagai kewajiban untuk mengawal kedaulatan  kodanya.  Kejelasan identitas  yang dapat dibuktikan menunjukkan bahwa koda yang akan diamanatkan ke calon wakil rakyat, ke calon pemimpin  adalah koda yang benar karena pemilik koda itu sendiri yang memberikan mandatnya.

Pos terkait