Tradisi Tura Neda selalu dilakukan oleh para leluhur dalam menentukan sebuah tempat untuk membangun rumah. Apakah tempat tersebut aman. Di mana seharusnya letak pintu utama. Tura Neda juga selalu dilakukan oleh pelaku tradisi untuk mengurai kesalahan – kesalahan (dosa) yang dibuat oleh para leluhur dan dampaknya dirasakan oleh anak cucu. Tura Neda, sebuah upaya pencarian kebenaran akan esensi dari Koda Kiri pulo lema. Tura : Mimpi, Neda, sebuah alas, bantal yakni sarana yang disebut kemie padu. Kemie : Buah kemiri. Padu : lilin dari kemiri (buah kemiri kecil yang biasa digunakan sebagai lilin/pelita). Tura Neda dapat dimaknai melalui landasan yang benar, sang pencari kebenaran dituntun oleh cahaya menuju kebenaran itu.
Tradisi “Tura Neda” upaya mencari kebenaran koda, telah diwariskan oleh para leluhur sebagai sarana untuk memuliakan kehidupan dan kemanusiaan. Leluhur mengajarkan bahwa sebuah peristiwa harus mampu dilihat, dibaca dan dimakanai secara mendalam. Proses mencarinya pun harus menggunakan alas, sumber yang benar, sarana yang tepat. Pemilu dan pemilihan tidak terlepas dan sepih dari publikasi berita berita bohong atau hoax.
Keutuhan berita sering dipotong. Sebuah peristiwa yang terdokumentasi dalam foto sering diedit dengan narasi yang berbeda dan setitikpun tidak ada nilai kebenaran dari narasi tersebut. Hasil penelitian MAFINDO ( Masyarakat Anti Fitnah ) mengklasifikasi hoax dalam dua klasifikasi yakni umum dan akademis. Klasfikasi umum sangat sederhana yakni masyarakat memahami berita tersebut Benar atau Bohong/Hoax.





