Yosef Freinademetz berhasil dalam karya misionernya karena dia rela pergi. Pergi artinya meninggalkan. Pergi, entah memakai kendaraan atau jalan kaki, ada sesuatu yang mesti ditinggalkan. Kalau kita tidak tinggalkan, kita tidak sampai ke tujuan. Kalau mau ke Ruteng, harus tinggalkan Kuwu, Cireng, N’terlango, Bahong, Waegarit, Mena dan Redong.
Dalam arti psikologis spiritual, kalau kita benar-benar mau berubah ada sesuatu dalam diri kita yang harus ditinggalkan. Yosef Freinademetz, telah meninggalkan tanah airnya dan lebih dari itu, dia meninggalkan dirinya sendiri.
Dirinya yang berorientasi Eropa, gaya hidup dan pandangan tentang bangsa-bangsa yang bukan Kristen dan bangsa-bangsa yang bukan Eropa dia tinggalkan; dia tanggalkan; dia singkirkan; dia singkapkan. Walaupun pada awal pandangannya tentang orang China sangat negatif.
Di Eropa, bertemu dengan anak-anak, mereka akan memberi salam: ‘Terpujilah Yesus Kristus’. Tetapi di China, para misionaris akan diteriaki oleh mereka dengan kata: ‘Setan Asing’. Sebab itu, pada awalnya Pater Yosef Freinademetz berpikir sangat negatif tentang orang China. Katanya: ‘China, sesungguhnya adalah satu negeri setan. Bahkan udaranya pun dicemari oleh kekafiran’.
Apa yang menyebabkan seorang Yosef Freinademetz bisa bertobat dan beralih dari pandangan negatif kepada pandangan posetif tentang orang-orang China?
Dari pengalaman dan pelayanan penuh cinta kepada masyarakat kecil, Yosef Freinademetz menemukan bahwa dalam diri orang China, ada rasa budaya dan hidup beragama yang tinggi. Nilai budaya dan agama masyarakat kecil telah mengubah pandangan Freinademetz tentang orang-orang China.





