Yesus berpesan kepada para Rasul, pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil sampai ke ujung bumi. Paus Fransiskus juga pernah mengatakan; pergilah ke ujung bumi. Segala penjuru dunia atau ujung bumi ialah tempat di mana kita berada. Dan sebagai misionaris yang diutus, kita harus selalu siap untuk pergi ke tempat yang sulit, yang menantang, yang tidak disukai banyak orang. Maka sebagai yang diutus, semua kita tanpa kecuali harus terbuka untuk menerima perutusan kapan dan di mana saja, entah waktunya tepat atau tidak menyenangkan. Sebab, yang kita jalankan adalah misi Allah, bukan misi kita.
Menurut Paus Fransiskus, daerah misi kita yang sebenarnya adalah tempat di mana kita berada. Misalnya, yang ditugaskan di Lembaga Formasi seperti Novisiat, seorang formator, magister harus melihat rumah pembinaan itu sebagai daerah misinya. Atau di paroki, si misionaris harus melihat parokinya sebagai ladang dan padang gembalaannya.
Yosef Freinademetz sudah memberi kita contoh apa arti kata ‘pergi dan meninggalkan’. Dia sungguh-sungguh meninggalkan segala-galanya, karena dia tahu, ‘setiap orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak pantas menjadi murid-Ku’ (Cf. Luk. 9:62).
China adalah tanah garapan Santo Yosef Freinademetz. Ia telah menjalankan tugas misioner di China sampai titik darah penghabisan. Pengorbanan dan salib misinya, telah menyuburkan iman dan kasih umat kepada Allah. Darahnya telah menyatakan kehendak Allah. Misinya berhasil dan kini kita mengagumi karyanya.
Kita semua; pastor, suster, biarawan/I, awam, katekis, guru pun pegawai atau petani sekalipun harus melihat tempat kita masing-masing sebagai tanah garapan yang ditunjuk Tuhan untuk membangun dan membentuk diri menjadi anak-anak dari Bapa yang satu dan sama yakni Allah; seperti yang telah dijalankan oleh Yosef Freinademetz, misionaris sulung Serikat Sabda Allah (SVD), yang kita rayakan pestanya hari ini.





